News Update :

Parik'an

Pitik kentaki wis gak duwe wulu sing duwe wulu iku manuk puter, PeKaeS sak iki nomer urute telu sing milih telu wonge mesti pinter, Adikku tuku korek molene kesasar Ayo derek-derek suksesno 3 besar.

Post Populer

OASE

KIPRAH KAMI

KOLOM QIYADAH

Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Berjamaah Membuatku Semakin Kuat

Jumat, 06 Desember 2013


Falsafah dalam Berjamaah



Oleh: Hepi Andi Bastoni
(Follow: @andibastoni)


Alam mempunyai falsafah hidup yang bisa kita jadikan cermin. 
Teramat rugi kalau kita tak mau mengambil pelajaran.

Berjamaah seperti air

Seharusnya seluruh jamaah dari umat Islam memiliki visi dan misi yang sama. Seperti air. Bagaimana pun keadaannya, di mana pun dia berada dan apa pun posisinya, air tetap memiliki visi dan misi yang sama: mencari tempat yang lebih rendah. Dalam perjalanannya itu, air akan menempuh segala cara. Jika ada yang menghadang, sebelum mencari jalan alternatif ia akan berusaha menembusnya. Jika tidak mampu, sementara ia memisahkan diri untuk bertemu pada masanya. Jika ia dihadang oleh kekuatan besar, air akan berkumpul, lalu meninggi dengan kekuatan dahsyatnya.

Air selalu menjalani hidupnya dengan tenang. Namun, dalam ketenangannya itu ia menyimpan kekuatan dahsyat yang mampu merubuhkan rumah, menghanyutkan satu perkampungan, bahkan memporak-porandakan satu negeri. Jika suatu saat tugasnya berakhir, air akan melakukan regenerasi. Ketika ia sudah berkumpul di tempat yang rendah atau di laut, ia tak berhenti bergerak. Ia menguap, menjadi awan, dan melahirkan anak cucu baru bernama hujan.

Begitulah hidup berjamaah. Dengan visi dan misi yang sama, gerak jamaah akan terus berjalan sampai tujuannya tercapai. Di sinilah pentingnya memahami visi dan misi hidup berjamaah agar tidak salah bergerak.

Berjamaah seperti roda

Hidup berjamaah itu seperti roda. Umumnya roda terdiri dari beberapa bagian: ban, poros, dan jari-jari. Ketiga bagian itu merupakan elemen paling penting bagi roda. Ia tak mungkin bisa berputar baik kalau di antara ketiga bagian itu ada yang hilang. Masing-masing bagian itu mempunyai fungsi tersendiri. As atau poros berfungsi sebagai tempat berputar. Jari-jari berfungsi sebagai penghubung antara ban dan as. Dalam berjamaah juga demikian. As bisa kita analogikan sebagai kader inti, jari-jari sebagai kader pendukung, dan ban sebagai simpatisan. 

Dalam perputarannya pun, roda mempunyai siklusnya. Di antara bagian roda itu tak ada yang abadi. Kadang dia berada di bawah, kadang di atas. Begitulah elemen dalam jamaah. Ia harus mengalami perputaran yang sehat. Tak boleh ada di antara personal jamaah yang selalu berada di atas, harus ada regenerasi, pergantian dan perputaran. 

Berjamaah seperti pohon pisang

Dalam memompa semangat kerja berjamaah, kita bisa belajar dari jalan hidup pohon pisang. Di antara keunikan pohon pisang, sebelum berbuah ia tak hentinya berkembang. Bahkan, jika ada yang memotongnya, ia akan terus tumbuh dengan tunas baru. Perjalanannya tidak akan berhenti sampai ia berbuah dan memberikan manfaat bagi orang lain. Nnyaris seluruh “tubuh”nya bisa dimanfaatkan. Mulai dari batang pohonnya, daunya, gedebongnya, dan buahnya.

Begitu seharusnya hidup seorang Mukmin. Ia tak boleh mengenak henti. Seluruh hidupnya harus melahirkan karya. Karya yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Personal sebuah jamaah hendaknya selalu berprinsip, untuk selalu memberikan kontribusinya pada jamaah. Bukan sebaliknya, berpikir untuk mendapatkan sesuatu dari jamaah.

Berjamaah seperti menyambung kayu

Secara struktur, berjamaah itu seperti menyambung dua kayu. Agar bisa disatukan dua ujung kayu harus rela dipahat. Dari ujung potongan yang berbentuk simetris itulah kedua ujung kayu yang berhadapan bisa disatukan, selanjutnya diikat atau dipaku. Kedua potongan kayu juga harus rela kalau suatu saat mesti berada di atas atau di bawah. Jika kedua potongan kayu itu tak mau dipahat, akan sulit menyatukannya. Begitulah jamaah dalam umat Islam. 

Struktur hidup berjamaah mengharuskan para personalnya untuk bersedia berada dalam posisi apa pun. Ada yang berada di atas sebagai pemimpin. Ada juga yang berada di bawah sebagai pendukung. Dalam posisinya masing-masing, para personal harus siap “dipahat” agar bisa disatukan dengan yang lain.

Berjamaah seperti lebah 

Binatang ini memberikan pelajaran berharga bagi sebuah jamaah. Ia membangun “istananya” dengan cara yang sangat teliti. Kerja sama, kesabaran dan kejelian merupakan modal utamanya. Dalam setiap sarang lebah terdapat ribuan kantung yang semuanya berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Setelah melakukan penelitian panjang, akhirnya para ahli matematika menemukan jawaban menarik. Di antara semua bentuk bangunan geometris, ternyata segi enam adalah bentuk terbaik untuk menyimpan kapasitas terbesar dengan bahan bangunan paling hemat.

Untuk mengisi kantung-kantung dengan madu, lebah harus mengumpulkan cairan manis pada bunga. Ini adalah tugas yang sangat berat. Penelitian ilmiah terkini menyebutkan, untuk memproduksi ½ kg madu, lebah harus mengunjungi sekitar 4 juta kuntum bunga! 

Maha suci Allah yang telah menciptakan lebah dan menjelaskan dalam firman-Nya, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan, bagi orang-orang yang memikirkan,” (QS an-Nahl: 68-69).



(sumber: pkspiyungan.org)

Keikhlasan Khalid bin Walid dan Kebijakan Umar Bin Khattab

Minggu, 06 Oktober 2013


Tangisan Sang Jenderal



Siapa yang tidak kenal dengan Khalid bin Walid? Ia adalah salah seorang sahabat yang sangat terkenal akan keberanian dan kekuatannya. Tidak hanya itu, ia pun sangat mahir dalam menyusun strategi peperangan. Maka sangatlah wajar jika Khalid bin Walid diangkat menjadi panglima perang sekaligus jenderal dari pasukan kaum muslimin.

Pada suatu waktu, Khalid bin Walid sedang memimpin peperangan dan berada di garis depan. Tiba-tiba datang seorang prajurit menyerahkan secarik surat yang dikirimkan oleh khalifah Umar bin Khaththab. Isinya sangat singkat, sekaligus mengagetkan.

“Dengan ini dinyatakan bahwa jenderal Khalid bin Walid, dipecat! Harap menghadap dengan segera!“.

Setelah membaca surat itu, Khalid bin Walid menjadi gelisah. Ia bingung karena merasa tak berbuat kesalahan. Namun, sebagai orang yang taat pada khalifah, ia segera mundur dari peperangan dan menyerahkan jabatan panglima perang kepada wakilnya.

Singkat cerita, Khalid bin Walid menghadap khalifah Umar bin Khaththab. Ia bertanya perihal isi surat yang diterimanya, hanya sekedar memastikan.

“Wahai, Amirul Mukminin. Apakah benar saya dipecat?”, tanya Khalid.

“Ya! Anda saya pecat!”, jawab Umar tegas.

“Baiklah, ya Amirul Mukminin. Saya dengar dan saya taat pada anda. Tapi bolehkah saya tahu alasannya? Apa kesalahan saya sehingga harus dipecat?”, tanya Khalid lagi penasaran.

“Anda sama sekali tidak berbuat kesalahan, sedikit pun!”, jawab Umar.

“Atau mungkin saya kurang ahli dalam hal peperangan?”, tanya Khalid lagi.

“Tidak! Saat ini, anda adalah panglima perang terbaik yang pernah kami miliki!”, jawab Umar diplomatis.

Khalid bin Walid terdiam. Ia tampak bingung dan linglung. Melihat ini, Umar bin Khaththab tersenyum.

“Dengarlah, wahai Khalid!”, ujar Umar.

“Anda adalah seorang jenderal terbaik dan panglima perang terhebat. Banyak sekali pujian yang ditujukan pada anda, entah itu dari pasukan anda sendiri maupun dari kaum muslimin”, lanjut Umar.

“Ingatlah, hai Khalid! Anda itu manusia biasa. Terlalu banyak pujian bisa menimbulkan rasa sombong dalam diri anda. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong?”, sambung Umar bertanya.

Khalid bin Walid tak menjawab. Ia diam seribu bahasa.

“Karena itu maafkan saya, wahai saudaraku! Agar anda tidak terjerumus ke dalam neraka, maka anda saya pecat!”, ujar Umar lagi.

Lagi-lagi Khalid bin Walid terdiam.

“Supaya anda tahu. Jangankan di hadapan Allah yang menguasai semesta, di hadapan Umar saja anda tidak bisa apa-apa”, jelas Umar dengan bijak.

Seketika itu juga Khalid bin Walid berdiri dan langsung memeluk khalifah Umar bin Khaththab. Ia menangis tersedu.

“Terima kasih, ya Umar! Engkau memang benar-benar saudaraku!”, ujar Khalid di sela-sela tangisannya.

Setelah pemecatan itu, Khalid bin Walid kembali ke medan perang. Bukan sebagai panglima, tetapi sebagai prajurit biasa. Ia menunjukkan bahwa ia berperang bukan karena jabatan, pangkat, atau kedudukan. Ia berperang semata-mata karena Allah, mencari keridhoan Allah.

Wahai Khalid bin Walid! Salam sejahtera untukmu!

Dialog Umar bn khattab dengan 'atikah

Rabu, 21 Agustus 2013



‘atikah : aku telah melihat munajat mu tadi malam, sepertinya kau sedang rapuh. Apakah seperti ini sang khalifah melewati malam pertamanya menjadi khalifah?

Umar : ya, ‘atikah, aku takut nanti di hari ketika hati dan mata diminta pertanggungjawaban setiap orang nanti akan ditanya bagaimana kepemimpinannya. Bagaimana nanti jika umat muslim menjadi terlantar?

‘atikah : mintalah pertolongan kepada Allah. Kau adalah Umar, yang kuat dan dipercaya.

Umar : aku tidak tahu. Aku khawatir kekuatan itu menyatu dengan kecerobohan. Dan aku tahu bahwa sebagian dari para sahabat Rasulullah telah mengkhawatirkan kecerobohanku. Demia Allah aku tidak mengkhawatirkan diriku seperti yang mereka khawatirkan. Apa pendapatmu ‘Atikah?

‘atikah : tentang apa?

Umar : kecerobohanku.

‘atikah : pada dirimu terdapat karakter yang keras tetapi baik. Kau keras pada dirimu sendiri dibanding pada orang lain. Kau menggunakan sifat kerasmu itu untuk kebenaran dengan kembali kepada kitab Allah. Dan kau mengimbanginya dengan impian dan kasih sayang dan belas kasihan kepada kami. Maka lakukan segala perbuatanmu dengan baik, wahai Abu hafs. Karena sesungguhnya Allah mencintaimu. 

Umar : semoga Allah memberkatimu, ‘atikah. Demi Allah, jika kau telah tiada maka tidak kudapatkan penggantinya.

Pemimpin yang bisa di jadikan tauladan

Gramatika Ramadhan

Selasa, 16 Juli 2013




Oleh: Muhbib Abdul Wahab


Ada yang sangat menarik dari setiap akhir ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat 183-187 surah Albaqarah diakhiri dengan fi'il Mudhari' (present dan future tense). Misalnya, ayat 183 yang diakhiri dengan la'allakum tattaqun, lalu in kuntum ta'lamun (184), la'allakum tasykurun (185), la'allahum yarsyudun (186), danla'allahum yattaqun (187).


Menurut gramatika bahasa Arab, akhir ayat-ayat tersebut mengandung arti bahwa puasa itu harus berwawasan masa kini dan mendatang. Ketakwaan itu mengawali, menyertai, mengakhiri, sekaligus menindaklanjuti Ramadhan.


Kecuali ayat 184, ayat-ayat lainnya dirangkai dengan kata la'alla yang menunjukkan arti harapan (tarajji). Artinya, Ramadhan harus menjadi bulan penuh harapan menuju perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan bermakna.


Pertama, harapan menjadi orang bertakwa (la'allakum tattaqun). Dalam menafsirkan ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa 'mudah-mudahan kalian semua dapat menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.' Karena orang yang berpuasa itu mestinya antimaksiat. Makan dan minum saja tidak mau (di siang hari), apalagi maksiat?


Kedua, harapan menjadi orang yang berilmu (in kuntum ta'lamun). Ilmu harus menjadi dasar bagi kita dalam menggali makna dan rahasia puasa. Sebaliknya, puasa hendaknya mengantarkan kita untuk selalu menggali dan mengembangkan ilmu. Ilmu dan takwa menjadi 'identitas' Muslim.


Ketiga, harapan menjadi orang yang pandai bersyukur (la'allakum tasykurun). Bersyukur merupakan nilai positif dan konstruktif bagi orang yang berpuasa, karena ketika merasa letih, lapar, haus, dan dahaga, lalu pada saat berbuka dapat menikmati apa yang menjadi hak mulut dan perutnya, rasa gembira itu terekspresikan luar biasa indah. "Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya di akhirat kelak." (HR Thabrani).


Keempat, harapan menjadi orang yang berada dalam kebenaran (la'allahum yarsyudun). Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan prasyarat yang mengantarkan seseorang itu memperoleh jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini.


Harapan itu harus dipenuhi dengan ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa, dengan sungguh-sungguh meminta kepada Allah dan bukan pada yang lain.


Kelima, harapan menjadi orang yang bertakwa (la'allahum yattaqun).Menjadi orang yang bertakwa harus tahu diri, tahu batas, dan tahu yang pantas. Tahu diri artinya bisa mengendalikan hawa nafsu, tahu batas berarti mengetahui larangan-larangan Allah, dan tahu yang pantas artinya berusaha untuk menampilkan performa diri yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya.


Dengan memahami gramatika Ramadhan ini, kita perlu memaksimalkan harapan-harapan baik kita dengan membuat perencanaan dan target yang jelas sehingga Ramadhan kali ini, membuahkan transformasi dan spiritualisasi diri ke arah peningkatan iman dan takwa yang bermakna. Semoga.
*ROL

Biarkan Harapan Bercerita Tentang Dirinya....

Rabu, 29 Mei 2013







Musyafa Ahmad Rahim
Kaderisasi DPP PKS





Biarkan Harapan Bercerita Tentang Dirinya....


Apa yang mendorong petani berkeringat dan bekerja keras? …adalah harapan akan memetik panen dari tanamannya.

Apa yang membuat seorang pedagang tergiur melakukan banyak perjalanan, menempuh marabahaya, meninggalkan keluarga dan tanah air? … adalah harapan akan mendapat keuntungan.

Apa yang mendorong seorang pelajar bersungguh-sungguh, terus menerus belajar, begadang di malam hari, meresume dan menghafal? Adalah harapan akan lulus.

Apa yang mendorong seorang tentara melakukan berbagai manuver heroic dalam peperangan dan bersabar menghadapi peperangan yang ganas? … adalah harapan akan mendapatkan kemenangan.

Apa yang membuat seorang pasien dengan sukarela maupun terpaksa meminum obat yang pahit? Adalah harapan akan sembuh.

Apa yang mendorong seorang beriman menentang hawa nafsunya dan bersusah payah melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya? … adalah harapan terhadap ridha dan surga Allah SWT.

Jadi,

Biarkan harapan bercerita tentang dirinya.....

Ujian Keimanan Kader PKS

Kamis, 16 Mei 2013




Berbagai ujian, cobaan, dan kesulitan di dunia dapat menambah iman kepada Allah dan memperdalam keyakinan tauhid. Semua itu merupakan sarana pendidikan bagi jiwa manusia. Ujian dan cobaan yang datang bukanlah untuk diratapi karena tidaklah ujian dan cobaan tersebut melainkan akan mendatangkan kebaikan. Mempertebal keyakinan tauhid tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah dan membaca setumpuk buku, tapi mesti juga melalui sejumlah ujian Tuhan agar diketahui mana yang jujur dan mana yang bohong dalam ketauhidannya. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang orang yang sebelumnya, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang orang yang berdusta.” (QS Al Ankabut :2-3) – (Al Qarni)

Tunjukkan Pada Musuh-musuh kalian Bahwa Mereka Telah Salah Memilih Lawan !!

Selasa, 14 Mei 2013





"Apa Kalian Bisa Tidur Nyenyak, Kawan??"

1. Sebelum ane ngerjain animasi lagi .. Mau ngajak kita berandai-andai nih; berimajinasi lebih luas biar seger. Hastag-nya #ronin

2. Boleh kalau punya teman2 kiri / sosialis atau haters2 PKS, nanti silakan di cc ke mereka. #ronin

3. begini. Kader PKS itu (kader lho ya, yg komitmen liqo & punya garis komando jelas) itu jumlahnya sekitar 1 jt orang di negeri ini. #ronin

4. Diantara mereka ada ribuan politisi yg pengalaman belasan tahun. Ada ribuan aktifis LSM. Ada ribuan pengacara. Ada ribuan dosen. #ronin

5. Ada ribuan wartawan yg tersebar diberbagai media. Ada puluhan ribu PNS, ribuan penggerak koperasi & BMT. #ronin

6. Dan tentu saja ribuan mahasiswa. Mereka bukan sembarangan, biasanya menguasai BEM kampus & tentu saja LDK. Mereka saling sinergi. #ronin

7. Jangan lupa ada ribuan aktifis buruh yg militansinya luar biasa. Gak percaya PKS bisa menggerakkan buruh? Coba tanya @budi_buruh. #ronin

8. Dan seperti saya, ada ribuan budayawan tersebar dimana-mana; bergerak dalam berbagai bidang seni. Film, musik, sastra, dll. #ronin

9. Sekarang sy mau ajak kalian berandai-andai. Jika, agenda PKS haters ini yg ingin ada #PembekuanPKS, atau minimal PKS jatuh 2014 .. #ronin

10. jatuh bebas di Pemilu 2014, sampai PKS tidak lolos ET & tidak boleh terlibat di DPR-RI .. #ronin

11. Maka ratusan ribu orang yang tadi saya sebutkan profesi2nya itu tentu tidak perlu lagi melakukan misinya selama ini. #ronin

12. Apa itu? Salah satunya (bukan yg utama lho); meningkatkan citra partai & menjaga nama baik partai. Kan partai-nya sudah gak ada? #ronin

13. Kami tak perlu pusing pilkada & pemilu, tak perlu pusing opini orang.. Kira-kira apa yg akan kami lakukan? #ronin

14. Ngaji tetaplah. Tapi itu kan cuma seminggu sekali? Waktunya paling lama cuma 4 jam. Sisanya ngapain? #ronin

15. Kami jadi #ronin. Prajurit2 terlatih, berdiaspora menyebar di semua elemen masyarakat; tapi tidak punya payung lembaga ..

16. Apa itu merugikan kami? Ooo tidak .. Justru kadang kami geregetan ingin menjadi seperti ini. Tak peduli opini orang itu enak. #ronin

17. Lalu andaikan nih .. Setelah itu, kami ratusan ribu #ronin ini diberi 1 komando saja .. BALAS.

18. Apa bisa nyenyak tidur kalian kawan? #ronin

19. Dulu tirani Soeharto yg begitu kuat bisa dijatuhkan mahasiswa. Penggerak utamanya 2 : KAMMI & SMUI. Ketuanya Fahri & Rama. #ronin

20. Skarang Fahri & Rama bukan mahasiswa culun lagi. Mereka politisi2 handal dg dukungan jaringan kuat. Tapi lalu jadi #ronin

21. Kami ingat & terus ingat .. Siapa-siapa saja yg dari kemarin hingga hari ini terus mengerjai kami. Jangan kuatir. #ronin

22. Sekali lagi; andai kami para #ronin yg ratusan ribu ini diberi 1 komando : BALAS. Tanpa peduli opini orang, tak peduli citra siapapun.

23. Sebagaimana para haters kami melakukannya pada kami hari ini; mereka tak peduli apa-apa. Bagaimana? #ronin

24. Terus terang; bukannya mengancam; Tapi dalam lubuk hati, saya sangat menunggu saat itu datang. #ronin

25. Ideologi kami Islam, sama persis seperti mayoritas penduduk negeri ini. Tirani gak bisa memperlakukan kami spt komunis PKI dulu. #ronin

26. Kami tak akan menjejali penjara2 dengan tuduhan2 palsu. Kami ada dimana-mana, berdiaspora dg masyarakat. Dan cm punya 1 perintah : BALAS.

27. Apa bisa nyenyak tidur kalian, kawan-kawan? ... terimakasih. #ronin

Sumber. @af1_ on twitter

Semua Ranah Kehidupan adalah Lini Perjuangan

Senin, 13 Mei 2013





Islamedia - Semua ranah kehidupan adalah lini perjuangan jangan merasa ada satupun lini yang kita remehkan...

Segera tentukan posisi kita, dimana lini yang akan kita geluti. Lalu kita camkan, perjuangan ini tidak boleh kebobolan dari lini yang kita jaga..!

Satu catatan penting... jangan kesankan pentingnya lini yang kita jaga, dengan meremehkan atau memojokkan orang-orang yang berjuang di lini yang berbeda...!

Justru kita harus bersyukur jika ada orang lain yang menjaga lini berbeda yang tidak dapat kita jangkau karena keterbatasan.
Berterimakasihlah kepadanya!

Bahkan jika dapat bersinergi, hal itu lebih baik lagi...
apalagi pada saat-saat tertentu dimana tingkat kebutuhan dan dukungan sangat diperlukan..

Miris kalau melihat masih banyak aktifis Islam menghabiskan energi untuk memojokkan saudara-saudaranya yang sama-sama berjuang di lini yang berbeda...

Kalau sekedar dicari-cari kesalahannya....
adakah orang yang bebas dari kesalahan..?
Bahkan diri kita sendiri jika jujur, akan banyak terdapat kesalahan.

Maksudnya bukan membenarkan kesalahan, tapi jangan sampai terjadinya kekeliruan pada saudara kita, membuat kita menafikan perjuangannya, apalagi memojokkannya...

Riyadh, Jumadal Ula 1434 H

Abdullah Haidir

Di Gerbong Kereta pun, Anis Matta dan Rombongan Rapimnas PKS Gelar Salat Berjamaah

Kamis, 18 April 2013






Jakarta – Bagi kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ibadah salat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Setiap kali tiba waktu salat, mereka kontan salat berjamaah, di manapun, tak terkecuali di gerbong kereta api sekalipun.


Dalam perjalanan menuju Semarang, Jawa Tengah dari Jakarta, Rabu (17/4/2013), rombongan PKS yang di antaranya Presiden PKS Anis Matta, menggelar salat magrib berjamaah di dalam gerbong kereta VIP yang tengah melaju.


Salat memang biasa dilakukan setiap muslim di mana saja pada waktunya. Namun, bagi petugas kereta api, salat berjamaah di dalam gerbong ini jarang-jarang dilakukan. Apalagi, mereka menggelarnya di gerbong VIP yang biasanya menjadi arena hiburan sepanjang perjalanan.


"Ini langka sekali melakukan salat berjamaah, biasanya yang di VIP pada foya-foya, nyanyi-nyanyi. Jadi mau diabadikan untuk laporan kami," kata salah satu petugas kereta yang mengambil foto mereka.


Menurutnya, hal yang seperti ini memang jarang sekali sehingga perlu didokumentasikan untuk kegiatan penumpang kereta. "Ya buat laporan saja, penumpang kami kegiatannya ini," tuturnya.


Dari pantauan INILAH.COM, Anis Matta bersama jajaran elite partai berada di gerbong kereta wisata atau gerbong 1. Meski menjabat presiden partai, Anis tidak memimpin salat jamaah tersebut dan memilih berada di barisan belakang.


Sebagai informasi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan melakukan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) sekaligus merayakan hari lahir partai di kota Semarang, Jawa Tengah mulai tanggal 18 - 20 April 2013. [tjs]
*inilah.com

Siapapun Anda Adalah PKS

Senin, 08 April 2013


Siapapun Anda adalah PKS 

Kenapa PKS melakukan koalisi dengan Demokrat, kenapa jadi anak nakal di koalisi, kenapa mendukung calon yang  bukan dari kadernya, tapi memiliki kapabilitas, kenapa memasukan kader non muslim yang kapabel.

itu karena PKS memahami bahwa islam tidak hanya terbatas urusan jenggot, gamis, jilbab lebar, poligami, berjabat tangan dengan perempuan, walau memang itu bagian islam, tapi islam bukan hanya itu, islam lebih luas dari itu.

ketika berkoalisi dengan demokrat, PKS bisa mengambil peran untuk memperbaiki bangsa dari segi ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hukum dan ketika jadi anak nakal di koalisi, PKS melihat ada kebijakan SBY yang tidak berpihak rakyat.

ketika mengusung calon bukan dari kadernya atau dari non muslim, PKS melihat kader tersebut bisa berperan untuk kepentingan rakyat, dan semua kebijakan itu berlandaskan ideologi, bahwa penegakan keadilan, pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan,  pemusnahan buta huruf adalah islam.

kalaulah PKS hanya memahami islam terbatas urusan jenggot, jilbab, poligami dan jabat tangan dengan perempuan, PKS tidak akan masuk ke dalam politik dan bermanuver di dalamnya, sebab hal-hal itu sudah bisa dilakukan hanya dengan pengajian, tidak perlu masuk ke dalam politik, tapi kenyataanya tidak, itu menunjukan bahwa di mata PKS islam itu lebih luas.

ketika PKS memahami bahwa islam tidak terbatas pada urusan-urusan yang bisa diselesaikan dengan pengajian itu, maka PKS memandang orang lain di luar PKS yang mencoba menegakan keadilan, memberantas korupsi, mengentaskan kemiskinan dan menyelesaikan masalah sosial dan keamanan, adalah orang islam, bukan orang kafir.

walau beda partai, walau beda baju, walau beda profesi, siapapun ia,  ketika menegakan itu semua ia termasuk dari orang PKS, di dalam internal PKS dikenal dengan adigium; betapa banyak orang di laur kita tapi termasuk ke golongan kita.

jadi ketika anda berusaha menegakan keadilan dan mengorbankan diri demi rakyat, dengan cara masing-masing, walau tidak berjenggot, walau tidak berjilbab panjang, walau tidak ikut lingkaran di internal PKS, tidak memiliki gelar ustadz, anda adalah bagian dari PKS.

kalau anda termasuk para pengawal anti-korupsi, anti mafia hukum, anti-diskriminasi, anti kekerasan, anti human traficing, maka anda adalah bagian dari PKS, PKS menganggap anda adalah teman, bukan musuh, walau beda baju partai, walau memilih non-partisan, karena visi anda dengan PKS sama.

dari sudut pandang ini, janganlah anda berfikir bahwa PKS mengkafirkan anda, PKS menyudutkan anda, PKS ingin mendirikan negara agama, PKS ingin meruntuhkan NKRI, PKS ingin menghapus Indonesia dari peta dunia, sebab anda dan PKS adalah teman yang dekat dalam memajukan NKRI.

kasus dugaan suap terhadap LHI, memang ada dari kader PKS yang meyakini bahwa LHI mungkin tidak bersalah, dan itu hak setiap orang untuk punya opini, dan anda pun berhak punya opini berbeda, berdasarkan informasi yang di dapat masing-masing, tapi semuanya pada akhirnya hukumlah yang akan menentukan, LHI bersalah atau tidak.

tapi arus besar di PKS berprinsip, kalau LHI terbukti bersalah setelah diputuskan pengadilan akan mengatakan sebagaimana Nabi berucap, bahwa jika fatimah mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tanganya.”  tidak ada keistimewaan.

jadi biarlah hukum yang menangani, sebagaimana dikatakan oleh Anis Matta, tapi anda pun boleh berbicara tentang LHI, ini kan negara demokrasi, siapapun boleh bicara karena dilindungi undang-undang.

Opini oleh : Adi Andriana

sumber : kompasiana
Siapapun Anda adalah PKS

Kenapa PKS melakukan koalisi dengan Demokrat, kenapa jadi anak nakal di koalisi, kenapa mendukung calon yang bukan dari kadernya, tapi memiliki kapabilitas, kenapa memasukan kader non muslim yang kapabel.

itu karena PKS memahami bahwa islam tidak hanya terbatas urusan jenggot, gamis, jilbab lebar, poligami, berjabat tangan dengan perempuan, walau memang itu bagian islam, tapi islam bukan hanya itu, islam lebih luas dari itu.

ketika berkoalisi dengan demokrat, PKS bisa mengambil peran untuk memperbaiki bangsa dari segi ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hukum dan ketika jadi anak nakal di koalisi, PKS melihat ada kebijakan SBY yang tidak berpihak rakyat.

ketika mengusung calon bukan dari kadernya atau dari non muslim, PKS melihat kader tersebut bisa berperan untuk kepentingan rakyat, dan semua kebijakan itu berlandaskan ideologi, bahwa penegakan keadilan, pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan, pemusnahan buta huruf adalah islam.

kalaulah PKS hanya memahami islam terbatas urusan jenggot, jilbab, poligami dan jabat tangan dengan perempuan, PKS tidak akan masuk ke dalam politik dan bermanuver di dalamnya, sebab hal-hal itu sudah bisa dilakukan hanya dengan pengajian, tidak perlu masuk ke dalam politik, tapi kenyataanya tidak, itu menunjukan bahwa di mata PKS islam itu lebih luas.

ketika PKS memahami bahwa islam tidak terbatas pada urusan-urusan yang bisa diselesaikan dengan pengajian itu, maka PKS memandang orang lain di luar PKS yang mencoba menegakan keadilan, memberantas korupsi, mengentaskan kemiskinan dan menyelesaikan masalah sosial dan keamanan, adalah orang islam, bukan orang kafir.

walau beda partai, walau beda baju, walau beda profesi, siapapun ia, ketika menegakan itu semua ia termasuk dari orang PKS, di dalam internal PKS dikenal dengan adigium; betapa banyak orang di laur kita tapi termasuk ke golongan kita.

jadi ketika anda berusaha menegakan keadilan dan mengorbankan diri demi rakyat, dengan cara masing-masing, walau tidak berjenggot, walau tidak berjilbab panjang, walau tidak ikut lingkaran di internal PKS, tidak memiliki gelar ustadz, anda adalah bagian dari PKS.

kalau anda termasuk para pengawal anti-korupsi, anti mafia hukum, anti-diskriminasi, anti kekerasan, anti human traficing, maka anda adalah bagian dari PKS, PKS menganggap anda adalah teman, bukan musuh, walau beda baju partai, walau memilih non-partisan, karena visi anda dengan PKS sama.

dari sudut pandang ini, janganlah anda berfikir bahwa PKS mengkafirkan anda, PKS menyudutkan anda, PKS ingin mendirikan negara agama, PKS ingin meruntuhkan NKRI, PKS ingin menghapus Indonesia dari peta dunia, sebab anda dan PKS adalah teman yang dekat dalam memajukan NKRI.

kasus dugaan suap terhadap LHI, memang ada dari kader PKS yang meyakini bahwa LHI mungkin tidak bersalah, dan itu hak setiap orang untuk punya opini, dan anda pun berhak punya opini berbeda, berdasarkan informasi yang di dapat masing-masing, tapi semuanya pada akhirnya hukumlah yang akan menentukan, LHI bersalah atau tidak.

tapi arus besar di PKS berprinsip, kalau LHI terbukti bersalah setelah diputuskan pengadilan akan mengatakan sebagaimana Nabi berucap, bahwa jika fatimah mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tanganya.” tidak ada keistimewaan.

jadi biarlah hukum yang menangani, sebagaimana dikatakan oleh Anis Matta, tapi anda pun boleh berbicara tentang LHI, ini kan negara demokrasi, siapapun boleh bicara karena dilindungi undang-undang.

Opini oleh : Adi Andriana

sumber : kompasiana

Renungan Pagi

Kamis, 14 Maret 2013





‎"Kendor ga kendornya dakwah ini kita lihat dari asal muasalnya.
Dakwah ini kan ibarat kita lagi buka lahan sawah. Kita cari benih yang baik.. kita cari lahan yang baik.. kemanapun kita cari. Nah, kalo dapet benih.. kita tabur deh tuh ke padang yang baik juga. Nah sekarang udah kita tanam, kita masukin aer, nah ketika aer masuk.. ada yang dateng, belut yang dateng. Persoalannya kita mau sibuk sama sawah apa mau sibuk sama belut..?"

(Ust. Rahmat Abdullah)



Sang Murobbi



























































































PKS Menerjang Badai | Fenomena

Kamis, 07 Maret 2013




PENILAIAN publik sering kali kejam dan tak adil. Pemberitaan media yang tak berimbang, apalagi telah menjurus pada trial by the press, juga kerap menjadi bahan bagi publik untuk bersikap seperti itu. 

Kasus yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah contoh yang gamblang tentang bagaimana pers menjadi penjatuh vonis yang sadis. PKS jadi bulan-bulanan hampir semua media mainstream sejak dugaan kasus suap impor daging sapi mencuat. 

Mayoritas media telah melekatkan stempel bersalah pada LHI dan PKS pada detik pertama kasus ini mencuat. Hampir tak ada yang mau memandang jernih duduk perkaranya. 

Sekadar mengingatkan, tanpa bermaksud membela LHI dan PKS, hingga saat ini status LHI adalah tersangka, bukan terpidana. Hingga saat ini, LHI pun belum terbukti menerima sepeser pun dari uang Rp 1 M yang katanya akan diberikan oleh AF sebagai suap. Bahkan, Dirut PT Indoguna pun menyatakan uang Rp 1 M itu bukan untuk LHI. 

Tetapi, media mainstream dengan galaknya terus menggambarkan dengan sudut pandang seolah LHI telah terbukti bersalah. Terlepas dari siapa dan kepentingan apa di balik media-media mainstream itu, tetapi perilaku tersebut betul-betul mencederai prinsip-prinsip jurnalisme.

Pengadilan belum berlangsung. Vonis belum dijatuhkan oleh institusi yang paling berwenang. Tetapi media (dan publik) seolah lupa prinsip presumption of innocence. Seseorang tak boleh dianggap bersalah sebelum pengadilan memutuskan dia bersalah. 

Yang menarik diperhatikan dari serangan gencar nan tak adil dari media terhadap PKS adalah bagaimana para elit dan kader partai ini bersikap. Presiden barunya dengan gesit melakukan langkah-langkah konsolidasi. Bukan hanya berhasil mencegah partai ini tercerai berai, tetapi justru membangkitkan semangat juang luar biasa. 

PKS juga berhasil membuktikan bahwa faksi-faksi yang diisukan ada di dalam tubuhnya ternyata hanya sebatas isu. Jika faksi itu memang ada, pastilah faksi yang berseberangan dengan faksi yang konon digawangi oleh Anis Matta, akan menyempal. Nyatanya tak muncul PKS sempalan. Bahkan, tak ada gerakan perlawanan terhadap apa yang dilakukan Anis Matta. Yang ada justru semua mesin partai kini bekerja dengan putaran mesin yang meningkat pesat dan irama yang rampak. 

Hasilnya mulai terlihat dalam Pilkada Jawa Barat, 24 Februari lalu. Pasangan yang diusung PKS berhasil mengungguli pasangan yang disupport habis-habisan oleh idola media saat ini, Jokowi. 

Kamis, 7 Maret 2013 juga jadi ajang bagi para elit dan kader PKS untuk membuktikan ketangguhan mereka menerjang badai. Kita akan saksikan, bagaimana pasangan Cagub-Cawagub yang mereka usung dalam Pilkada Sumatera Utara bisa mengalahkan calon-calon lain, termasuk yang lagi-lagi disupport si kotak-kotak pujaan media saat ini.

Di awal terpaan kasus LHI, para pengamat dan media kompak berseru: "PKS akan habis di Jabar, Sumut dan 2014". Di Jabar, dengan pasangan nomor urut 4 yang diusungnya, PKS berhasil membantah prediksi tersebut. Jika PKS juga berhasil memenangkan pasangan nomor urut 5 di Sumut, maka akan terjadi seperti yang dislogankan Hidayat Nur Wahid: 4 Sehat 5 Sempurna. PKS akan memiliki gizi dan stamina full untuk menghadapi 2014...

Sugih Hartanto

sumber: http://www.berita99.com/editorial/6271/pks-menerjang-badai

Penaklukan Areopolis | Islam Vs Romawi

Senin, 11 Februari 2013


Areopolis adalah sebuah kota di kawasan Balqa’ yang berposisi di sebelah timur Laut Mati, 15 kilometer ke arah utara dari kota Karak di negara Jordania sekarang yang terletak di atas plato dari rantai Pegunungan Moab setinggi 1300 meter dari permukaan Laut Mati yang secara bertahap meninggi dari arah utara ke selatan, yang di bagian timurnya berbatasan dengan padang pasir Arabia. Areopolis berasal dari kata Ares dan Polis yang berarti “kotanya Ares”. Sedangkan Ares sendiri merupakan nama dari dewa perang Yunani Kuno.
Areopolis memiliki iklim Mediterania yang khas. Udaranya kering dan memiliki curah hujan yang rendah. Di musim dingin, angin akan bertiup menghembuskan udara dingin yang sangat menusuk tulang. Dan terkadang pula salju turun di musim itu. Para ahli sejarah mencatat bahwa pada abad pertama sebelum masehi, kawasan ini adalah tanah Kerajaan Moab, sehingga kota ini terkenal pula dengan nama kota Rabbath-Moab. Di waktu selanjutnya, wilayah ini beberapa saat menjadi daerah kekuasaan Kekaisaran Parthia, kemudian Kerajaan Nabatea hingga akhirnya diokupasi oleh Kekaisaran Roma saat Kaisar Trajanus berkuasa. Kekaisaran Roma lalu mendirikan kerajaan semi otonom yang pengaturannya diserahkan kepada kabilah Ghassan.
Di kawasan kota kuno ini dahulu kala dibangun markas militer bagi skuadron tempur dan pengamanan wilayah Kekaisaran Roma. Dan di era Kekaisaran Roma Timur ini, Areopolis juga berperan sebagai pusat administrasi kekaisaran yang sangat penting. Hal ini tidaklah mengherankan karena Areopolis terletak pada jalur jalan raga Via Nova Trajana Bostra-Petra yang menghubungkan kota ini dengan Nova Trajana Bostra dan kota legendaris Petra.
Pena sejarawan timur dan barat membukukan catatan bahwa kota inilah yang pertama kali berhasil ditaklukkan pada ekspedisi para ksatria Islam ke Bilaad asy-Syaam. Prof. Kaegi menguatkan pendapat Sebeos (seorang tokoh Nashara dan sejarawan Armenia zaman pertengahan), al-Azdi, Ibnu al-Atsir rahimahullah dan at-Thabari rahimahullah seputar ekspedisi kaum muslimin ke kota bersejarah ini. Lalu bagaimanakah rangkuman kisahnya?
Suatu hari di musim dingin di batas tahun 633-634 M, nampaklah mentari mengangkasa tinggi di atas padang nan sepi dan gersang. Dengan perkasanya ia menyemburatkan sinarnya ke seantero jagat sesuai dengan titah Rabb-nya Yang Maha Mulia. Namun tak hanya bederang yang muncul darinya, tetapi kehangatan juga turut menyebar. Ya! Di gurun itu, kehangatan mentari begitu cepat terserap oleh lautan pasir yang membentang. Temperatur siang itu pun beranjak naik dari titik beku yang menusuk di malam hari menjadi lebih hangat dan bersahabat. Memang, di kala itu cuaca tidaklah seterik pada musim-musim panas karena sedang berada di musim dingin. Lautan pasir itu tidaklah membara, hanya memberikan kehangatan kepada para musafir yang melewatinya.
Walau mega-mega seolah enggan menampakkan dirinya dan enggan pula menutupi wajah si raja siang itu, suasana tetap nyaman dan teduh. Hembusan bayu yang sesekah menerpa, terkadang menaburkan butiran-butiran pasir lembut yang seolah menyapa para pelintas. Fatamorgana yang biasa tampak di musim panas dan mengaburkan serta membatasi penglihatan untuk dapat memandang ke arah yang lebih jauh lagi, kali ini tiada terlihat.
Nun di kejauhan kaki cakrawala, lapat-lapat terlihat bayangan hitam sedang bergerak mendekat. Kian lama bayangan itu menjadi kian jelas di pandangan mata. Itu adalah iring-iringan sebuah kafilah yang cukup besar yang sedang menjelajahi padang pasir. Kepulan debu beterbangan di sekeliling mereka, menghambur dari pasir halus yang terinjak langkah-langkah anggota kafilah itu. Sesekali terdengar sayup-sayup suara lenguh unta dan ringkik kuda yang kelelahan berpacu di gurun gersang itu.
Ternyata kafilah itu bukanlah kafilah biasa, bukan pula kafilah saudagar yang hendak berniaga. Masing-masing para lelakinya menyandang senjata di tangan, pinggang atau punggungnya. Tubuh-tubuh mereka tegap dan pandangan-pandangan mata mereka menyorot dengan tajam, menyiratkan ketegaran jiwa dan kekokohan tekad yang tidak lekang oleh perjalanan panjang dan dahaga. Semangat mereka tetap membumbung, terjulangkan oleh kehendak mulia dan suci: hidup mulia atau mati syahid!
Benarlah dugaan kita. Itu adalah kafilah perang para ksatria Islam yang sedang memacu langkahnya menuju bumi Kekaisaran Roma di Levant. Itulah pasukan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu. Mereka ingin membebaskan bumi Levant dan penduduknya dari kesyirikan dan penghambaan terhadap makhluk, menuju penghambaan murni terhadap Allah Rabb al-Alamin.
Pasukan itu terus mengalir deras dan semakin mendekat ke daerah tujuannya. Jalan panjang sudah mereka tempuh dan berbagai tempat sudah mereka lalui. Wadi al-Qura sudah jauh ditinggalkan di belakang punggung mereka. Begitu pula perkampungan al-Hijr -yang dahulu kala menjadi tempat bermukim seorang nabi yang diberi mukjizat berupa seekor unta yang sangat indah yang keluar dari sebongkah batu-, sejak lama sudah tersinggahi. Pasukan itu terus berjalan dan melangkah hingga sampailah mereka ke wilayah Ziza.
Langkah maju tidaklah berhenti dan diselesaikan di sana. Wilayah itu pun segera dilalui oleh mereka. Kewaspadaan semakin ditingkatkan dan kesiagaan pun dipuncakkan oleh masing-masing anggota pasukan karena mereka sudah berada di ambang gerbang pertempuran menghadapi para ksatria Roma yang digdaya. Dari Ziza ini basis militer Roma tidaklah terlalu jauh jaraknya. Ya! Basis kemiliteran Roma itu terletak di Areopolis yang tak lama lagi akan dicapai oleh pasukan mujahidin pejuang Islam.
001Bangunan Yang Dipahat Pada Bukit Batu
Memanglah tepat sekali jikalau kaum muslimin menargetkan Areopolis sebagai sasaran pertama pembukaan Islam. Adalah sangat berbahaya bagi para ksatria Islam itu untuk menembus lebih dalam ke wilayah utara kekuasaan Kekaisaran Roma di bumi Levant tanpa terlebih dahulu melumpuhkan kekuatan skuadron tempur Roma yang berada di wilayah selatan. Dan tidaklah pula memungkinkan bagi mereka menggelar operasi militer besar-besaran di wilayah Palaestina Prima yang terletak di sebelah utara Ngarai Arava dan Laut Mati sebelum menaklukkan benteng para ksatria Roma di Areopolis.
Benteng Qasr Rabba Areopolis
Reruntuhan Benteng Qasr Rabba Areopolis
Reruntuhan Benteng Areopolis
Memang benar, mobilisasi dan pengerahan pasukan dalam jumlah yang sangat besar tentunya membutuhkan persiapan yang matang dan waktu yang cukup. Sehingga hanya pasukan pilihan dan khususlah yang dapat segera diberangkatkan karena memang mereka selalu siap siaga dan diperlengkapi peralatan dan kendaraan tempur yang mencukupi. Pasukan Roma pimpinan Theodore itu pun berangkat dan terus mengalir ke arah tataran Balqa’ untuk menggempur pasukan Islam. Akhirnya, setelah melakukan perjalanan beberapa waktu maka sampailah mereka ke Areopolis. Di sana mereka memasang kewaspadaan yang penuh dan segera melakukan persiapan akhir untuk  menghadapi pertempuran dengan kaum muslimin. Ya! Kedua kekuatan tempur itu kini telah terkumpul dan terkonsentrasi di Areopolis.
Tetapi apakah yang terjadi kemudian? Kaum muslimin menerapkan strategi perang khusus dalam penyerbuan ke Areopolis ini. Setelah menempatkan logistik tempur, perbekalan dan keluarga mereka di tempat yang aman dan terjaga, para ksatria itu segera melakukan koordinasi dan persiapan penyerbuan. Segala sesuatunya diatur dalam waktu yang sangat singkat. Segala gerakan dibuat seefektif dan secermat mungkin. Sungguh, lawan yang akan dihadapi kali ini bukanlah lawan yang sembarangan. Mereka adalah para ksatria Roma yang berasal dari berbagai pelosok negeri dan telah berpengalaman pula dalam kancah pertempuran di seantero Mediterania. Niat-niat kembali diluruskan hanya mengharap keridhaan-Nya. Ketawakalan kepada-Nya dihunjamkan dalam-dalam dihati.
Setelah segala sesuatunya dipandang siap, maka melesatlah Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu dan pasukannya menuju barisan Legiun Roma pimpinan Theodore. Tepat sekali dugaan kita! Kaum muslimin menjalankan manuver blitzkrieg dengan sangat berani. Para ksatria Islam itu melakukan serbuan kilat dalam menghantam musuh-musuhnya di Areopolis. Itulah yang dilaporkan oleh Sebeos, seorang pendeta sekaligus sejarawan Nashara.
Strategi yang sangat tepat dan jitu! Pasukan tempur Kekaisaran Roma tidaklah memerkirakan serangan yang secepat kilat itu dari kaum muslimin. Legiun Roma itu sangat terkaget dengan kondisi yang demikian itu. Mereka sempat panik beberapa saat. Namun dengan pengalaman tempurnya, mereka mulai dapat memberikan perlawanan yang cukup sengit kepada pasukan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu  itu.
Pertempuran pun berkecamuk dan berkobar dengan dahsyatnya. Pasukan Roma bertempur dengan penuh semangat demi prestise Kekaisaran Roma dan harga diri mereka. Tetapi semangat pasukan Islam ternyata lebih tinggi daripada pasukan Roma itu. Memang tidaklah hal tersebut aneh bagi kita. Bagaimana tidak? Para mujahidin itu mencintai gugur di medan perang dengan kecintaan yang lebih dahsyat daripada kecintaan musuh-musuhnya terhadap kehidupan. Oleh karenanya maka pasukan Islam itu maju ke depan dengan sepenuh hati. Mereka menyeruak di antara para ksatria Roma dan memorakporandakan barisan musuhnya itu.
Pasukan Islam terus merangsek maju. Mereka tanpa kenal lelah menghalau para ksaria Roma itu lebih jauh lagi. Pedang terus dihunus dan dihantamkan kepada musuh yang membandel. Dan akhirnya karena dahsyatnya badai serangan pasukan Abu Ubaidah, para ksatria Roma itu terpaksa tarik diri ke belakang. Kali ini Theodore dan pasukannya itu mengambil manuver mundur teratur ke utara, ke arah Arnon Valley. Setelah manuver mundur itu, tentu saja para ksatria Roma itu tidak akan berpangku tangan menghadapi invasi kaum muslimin ini. Pastilah mereka akan menyusun ulang dan memersiapkan kekuatan yang lebih dahsyat lagi.
Yarmuk Valley
Dengan mundurnya kekuatan tempur Roma ke utara, maka Areopolis menjadi lemah. Hanya penduduk sipil saja dan beberapa gelintir serdadu penjaga keamanan yang ada di sana. Kaum muslimin kemudian memutuskan untuk mengepung benteng kota. Dengan segala kesantunan kaum muslimin bernegosiasi dengan penduduk kota itu. Akhirnya disepakatilah suatu keputusan, dan dibuatlah perjanjian damai di antara mereka. Dan dilaporkan oleh al-Azdi, Ibnu al-Atsir dan sejarawan lainnya bahwa kota ini adalah kota di wilayah bilaad asy-Syaam yang pertamakali melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Ini adalah kemenangan yang gemilang bagi Abu Ubaidah dan pasukannya. Untuk sementara waktu kaum muslimin dapat bernafas lega dengan keberhasilan pembukaan ini. Mereka bahagia dan bersyukur atasnya, sebab tak lain itu adalah karena kemudahan dan pertolongan dari Allah semata. Walhamdulillaah.
Sumber: Dikutip dari buku Pertarungan di Damaskus (Versus Exercitus Romanorum II), Abu Royhan Hudzaifah, Penerbit as Salam Group

Ketika Banjir Mengepung Negeri | Kolom Cahyadi Takariawan

Senin, 21 Januari 2013


Oleh Cahyadi Takariawan

Masyaallah, bencana terus datang bertubi di negeri ini. Satu bencana belum usai, telah datang bencana berikutnya lagi. Seakan tidak ada lagi tempat yang aman untuk dihuni. Mungkin ini pertanda telah semakin tuanya usia bumi. Atau memang manusia telah kehilangan nurani. Tidak pernah belajar dari kesalahan yang terus menerus terjadi. Alam menjadi tidak ramah kepada siapapun yang menghuni.

Masyaallah, apakah para pemimpin kita terlalu asyik bermimpi? Hanya suka berebut kekuasaan tanpa kesediaan untuk melindungi dan mengayomi. Memainkan aneka trik politik tanpa tanggung jawab dan sekedar menjaga citra diri. Tidak memikirkan nasib rakyat yang terus menerus terzhalimi. Banjir datang setiap saat tanpa bisa terbendung dan terpaksa dinikmati. Media telah meliput kecemasan setiap hari. Ribuan warga masyarakat tinggal di barak-barak pengungsi. Menunggu datangnya relawan membawa bungkusan nasi. Telinga mereka akrab dengan tangisan anak-anak dan bayi.

Masyaallah, apa yang harus kita lakukan jika sudah terlanjur mengalami kejadian seperti ini? Menangis sudah tidak keluar air mata lagi. Meratap sudah tidak berguna, marahpun tidak ada yang peduli. Ayo semua bangkit berdiri. Gandeng tangan semua anak negeri. Jangan mempersoalkan bendera, partai politik, atau organisasi. Semua harus terlibat dengan memberikan kontribusi. Sudah tiba saatnya semua bersedia melakukan evaluasi. Agar korban tidak bertambah dan banjir bisa segera berhenti.

Masyaallah, mari terus bekerja dan tidak putus asa dalam membangun negeri. Masih sangat banyak harapan menanti. Paling tidak, ada berbagai langkah yang bisa kita lakukan untuk menghadapi berbagai carut marut situasi....

Pertama, melakukan evaluasi total atas pengelolaan negeri ini

Masih sangat banyak kekurangan, kelemahan, bahkan kesalahan dalam mengurus negeri ini. Semua pihak harus bersedia membuka diri untuk evaluasi. Bukan untuk saling membenci, namun untuk mencari formula yang lebih teruji. Semua pihak, sejak anggota masyarakat apalagi para pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif tidak terkecuali. Bersama-sama mencermati berbagai program, kegiatan, bahkan dimulai dari visi dan misi. Evaluasi total semua yang belum beres dalam proses membangun bangsa dan negeri.

Bangsa kita memiliki sangat banyak potensi. Jangan dibiarkan rakyat tertindas dan sengsara di negeri sendiri. Sampai banyak yang terpaksa bekerja ke manca negara sebagai TKI yang tidak terlindungi. Karena di negeri sendiri mereka tidak dihargai. Pasti ada banyak yang salah dalam mengelola negeri ini. Ayo semua melakukan evaluasi.

Kedua, mengobarkan semangat peduli dan berkontribusi

Nyatanya banjir sudah terjadi dan tidak berhenti berhari-hari. Tidak perlu tangis dan ratapan yang menyayat hati. Saatnya kita kobarkan semangat peduli dan berkontribusi. Mari berikan bantuan untuk meringankan beban korban banjir, dengan apapun yang kita miliki. Tenaga, pikiran, waktu, dana, fasilitas dan semua yang masih dapat berfungsi. Tidak boleh egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Bukankah kita diperintahkan Tuhan untuk memiliki sikap murah hati?

Nyatanya, banjir telah melumpuhkan berbagai kegiatan ekonomi. Para korban menjadi tidak bisa berproduksi. Mereka harus kita bantu dengan semangat sepenuh hati. Inilah bentuk kesetiakawanan sebagai sesama anak negeri.

Ketiga, tidak saling menyalahkan dan mencaci maki

Sudahlah, jangan saling menyalahkan apalagi saling mencaci maki. Tidak ada gunanya dalam menghadapi bencana besar justru saling berkelahi. Biarkan saja semua pihak memberikan bantuan dengan cara yang sesuai dengan corak setiap organisasi atau instansi. Jangan menyalahkan pihak-pihak yang sudah datang dan menyerahkan bantuan langsung ke lokasi. Walaupun mereka membawa bendera partai atau ormas atau LSM sebagai ciri dan informasi. Ingatkan saja mereka yang tidak peduli dan hanya bisa mencaci.

Semua komponen bangsa harus saling bahu membahu untuk meringankan beban para pengungsi. Tidak ada gunanya merasa paling benar sendiri. Bukan berarti yang datang tanpa bendera itu lebih murni. Masalah ikhlas, adanya di hati. Jangan kita ikut menghakimi.

Keempat, semua pihak segera mencari solusi

Banjir sudah rutin datang di DKI. Setiap pemilihan Gubernur, tema mengatasi banjir selalu menjadi komoditi. Kampanye mereka sangat berapi-api. Ada yang mengaku, kalau cuma banjir sayalah sang ahli. Nyatanya banjir tidak pernah berhenti. Untuk itu, semua pihak harus berpikir menemukan solusi. Banjir harus bisa diatasi. Jakarta adalah ibukota dan lambang kebanggaan negeri ini. Di Istana Negara, banjirpun datang menghampiri. Bukankah ini sudah memasuki simbol supremasi?

Katanya Indonesia sangat banyak pakar, doktor dan profesor yang sangat mumpuni. Apa iya mereka tidak berkutik membiarkan banjir selalu terjadi? Ayo segera temukan solusi. Jangan biarkan waktu-waktu mendatang banjir datang mengepung negeri. Nyatakan dengan semangat, ini adalah banjir besar terakhir yang boleh terjadi. Selanjutnya, kita wajib menemukan metode mengatasi banjir yang sudah rutin kita hadapi.

Kelima, panjatkan do’a kepada Ilahi Rabbi

Bukankah kita warga yang beriman dan percaya kepada kekuatan ruhani? Jangan hanya menganggap banjir sebagai peristiwa alami. Bencana adalah peringatan dari Tuhan Yang Maha Mengasihi. Agar manusia Indonesia mau bangkit berdiri, menjadi bangsa besar, dan tidak dikasihani. Panjatkan doa agar banjir segera berhenti. Agar banjir tidak menelan korban jiwa dan menambah banyaknya pengungsi. Nabi Saw telah mengajarkan lantunan doa suci.

Waktu itu seorang sahabat datang kepada Sang Nabi. Bertanya serius di hadapan mimbar sambil berdiri. “Ya Rasulullah, banyak ternak mati dan terputus pula jalan kami. Berdoalah kepada Allah agar Dia menahan hujan ini.” Kemudian Nabi  mengangkat kedua tangannya, dan melantunkan doa puji.

Allahumma hawwaalaina walaa ‘alaina, allahumma ‘alal akaami wal jibaali wazhi-zhiraabi wa buthuunil audiyati wa manaabitisy-syajari.

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit-bukit, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” demikian doa Nabi.

Sahabat Anas bin Malik mengabadikan kisah ini. “Tiba-tiba hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah terik matahari”.  Haditsnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari.  Imam Muslim juga meriwayatkan hadits ini.

Jika merasa doa tersebut terlalu panjang, anda bisa membaca bagian depan doa sang Nabi.“Allahumma hawwaalaina walaa ‘alaina”, cukup bagian ini dibaca berulang kali. Niscaya hujan dan banjir akan berhenti mengepung negeri. “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”

Aamiin, ya Allah kabulkan doa kami...


*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=3027

Jalan Panjang Pengedar Narkoba Temukan Komunitas Tarbiyah PKS

Selasa, 22 Mei 2012



Oleh Achmad Siddik Thoha ‏
Perawat Komunitas Pohon Inspirasi dan Petualang di Hutan Nusantara


Langit mulai meredup. Sinar jingga mulai menghias di ufuk barat. Aku dan seorang teman petualang perlahan menuju sungai untuk membasuh diri. Hari ini tuntas tugas kami memberikan materi dasar survival di pantai. Kami berdua termasuk panitia yang mendampingi 150-an pemuda dalam kegiatan susur pantai di perbatasan Banten dan Jawa Barat.

Sungai kecil di dekat Pantai Citarate Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak sangat nyaman di sore ini. Ternyata beberapa panitia juga mengikuti kami berdua untuk mandi di sepanjang sungai kecil ini. Temanku, sebut saja EM mulai mengambil peralatan mandinya. Aku mendahului EM untuk menyebur ke aliran sungai yang berada hanya 50 m dari pantai.

Ketika aku hampir selesai mandi, aku mendekat ke EM. Terkejut bukan kepalang diriku. Kulihat badan EM yang kurus penuh dengan tato. Bagian dadanya terlihat tato bergambar kalajengking sedangkan di punggung kanannya gambar naga berwarna hitam menyatu dengan kulitnya. Aku sama sekali tak menyangka EM berpenampilan ala kepala mafia atau mantan narapidana. Setahuku, ia adalah seorang yang sholeh dan menjadi juru dakwah di lingkungannya di Kota Bogor.

Aku mencoba menahan diri untuk tidak mengganggu kenyaman EM di sore itu. Aku bersabar untuk menanyakan tentang tato itu pada saat yang tepat nanti. Seiring waktu, malam mulai menyergap dan nyamuk sudah mulai mengerubungi kami. Akhirnya kami menyudahi bersih-bersih badan menuju camping ground yang berjarak 200 m dari sungai.

***

Salam kedua shalat subuh berjamaah di Mushola Desa Citarate sudah kutunaikan. Semua jamaah keluar dari mushola, kecuali aku dan EM. Aku menemukan momentum untuk menghilangkan keterkejutanku kemarin sore tentang tato di tubuh EM. Kubuka pembicaraan pagi itu dengan sebuah pertanyaan,

“Pak, tato itu sudah lama?” Berhati-hati aku menanyakan hal yang sangat sensitif ini.

“Sudah, Pak.”

“Itu tanda atau apa, Pak?”

“Saya dulu pengedar (narkoba), Pak Siddik. Ini tanda kelompok kami di daerah A. Pengedar daerah lain punya tanda tato yang berbeda lagi.”

EM menjawab tenang, seolah sudah tahu bahwa tato yang terlihat olehku akan ditanyakan. Kemudia EM melanjutkan ceritanya;

“Di kota Bogor, saya salah satu pengedar yang menjajakan pil Koplo dan ganja. Mangsanya anak sekolah, Pak.”

“Apa anak sekolah gampang, Pak?” Tanyaku mulai antusias

“Gampang, Pak dan relatif aman. Saya dapat untung besar. Lumayan, satu hari bisa 100 ribu saya bawa pulang.”

“Pasokan barangnya dari mana?”

“Dari Bandung. Daerah Cianjur, Sukabumi, Kota dan Kabupaten Bogor dipasok dari Bandung. Saya beli per Ban (Sebentuk bantal) untuk Pil Koplo, lalu di bungkus kecil-kecil dalam plastik dan dimasukkan ke dalam kotak korek api. Kalau ganja saya beli per Am (amplop) lalu saya campur dengan rokok. Jadi saya di sekolah seolah sebagai pedagang rokok, Pak.”

“Gak ketahun polisi?” Aku mulai sedikit menginterogasi bak polisi.

“Aman, Pak. Polisi sudah kita bayar. Nama polisinya saya masih ingat betul. Selama polisi itu tidak ketahuan mem-backing narkoba, kita akan aman menjalankan profesi. Tapi sekali kena, semua jaringan kita akan habis.”

“Jadi Polisi yang backing Bapak ketahuan?” Aku tak sabar mendengar cerita berikutnya.

“Ya, polisi itu ketahuan dan dipecat. Kami para pengedar akhirnya kabur. Ada teman saya yang kabur Ke Kalimantan, Ke Sumatera dan tempat yang jauh dari Bogor. Saya sendiri awalnya malah tinggal dekat dengan Polsek. Malah aman. Tapi keberadaan saya masih diikuti oleh pengedar hingga akhirnya saya pindah ke pelosok desa.”

“Bagaimana akhirnya Bapak berhenti jadi pengedar dan pemakai narkoba?”

“Saya dihantui ketakutan karena jadi buronan polisi. Saya mencari jalan bagaimana caranya berhenti dari pekerjaan jahat ini. Pernah saya masuk ke lubang kuburan yang besok harinya akan diisi mayat. Saya tidur di dalam lubang kuburan dan mengandaikan diri saya sudah mati. Saya berpikir, kalau saya mati dalam kondisi penuh dosa seperti ini, sungguh menyesal saya.”

Aku mulai terharu mendengar pengakuan EM yang tulus.

“Lalu bagaimana Bapak bisa sembuh dari ketergantungan narkoba?”

“Saat saya sembunyi dari incaran polisi dan teman pengedar, saya tinggal di pelosok desa. Saya berjumpa dengan seorang bernama Asep. Awalnya kami hanya bermain pingpong, lalu lama-lama dia mengajak saya mengikuti pengajian. Saya sudah bertekad ingin berubah dan berharap pengajian ini membawa saya berubah. Seorang pembimbing pengajian bernama Ustadz Eka menyarankan saya untuk jangan lepas shalat terutama shalat malam. Saya awalnya berat mengerjakan shalat. Saya paksakan terus. Sampai ketika reaksi badan yang mengigil akibat pengaruh kecanduan terasa menyiksa badan saya, saya tetap paksakan mendatangi tempat wudlu.” EM berhenti sejenak.

“Kan pas reaksi narkoba itu muncul rasanya sakit sekali, Pak. Tubuh saya menggelinjang dan rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Perut juga rasanya sakit sekali. Saya sampai merangkak menuju pancuran di sungai dekat tempat kos untuk berwudlu. Saking sakitnya, saya tertidur dibawah pancuran semaleman. Alhamdulillah, setelah semaleman diguyur air pancuran yang dingin rasa sakit itu jadi berkurang. Saya ulangi tiap hari sampai akhirnya saya merasa menggigil bukan karena reaksi kecanduan, tapi karena menggigil dari air. Lama-kelaman akhirnya saya sembuh.”

“Alhamdulillah, ya. Ternyata petunjuk datang saat ada kesungguhan ya, Pak.” Saya semakin terharu mendengar cerita ini.

“Setelah sembuh saya makin mantap ikut pengajian. Ustadz Eka juga mengajak saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan dakwah di masyarakat. Alhamdulillah, Pak, kehidupan saya berubah total. Saya dapat istri yang baik dan anak yang baik pula. Hidup saya cukup meski gaji kecil.”

“Priiit…” suara peluait dari panitia susur pantai sudah berbunyi.

“Ayo, Pak kita ke camping ground.” Ajakku pada EM.

Kami pun menyudahi dialog singkat namun sangat bermakna. Aku benar-benar terinspirasi dengan cerita EM, seorang pengedar narkoba yang bertaubat dan kini mengabdikan diri jadi juru dakwah. Hari itu aku belajar banyak akan makna kasih sayang Tuhan pada orang yang bersungguh-sungguh ingin berubah.

***

Tuhan memberi jalan-Nya yang tak terduga bagi siapa yang ingin kembali. DIA tak pernah mengecewakan usaha seorang hamba yang sudah bertekad bulat mencuci dosa dan kembali pada jalan yang benar. Ampunan dan dan kasih-Nya, melebihi menggunungnya dosa, meluapnya kesalahan dan luasnya khilaf.

Salam kasih sayang.


*EM sekarang sudah jadi Kader Inti PKS.
Murabbi pertama beliau ialah Ust. Eka Hardiana, yang saat ini jadi Aleg PKS DPRD Jabar.

Sebuah dialog selepas malam...

“AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.

Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."

"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.

Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca...

Wallahu a'lam.



-----------
sumber: Majalah Al-Izzah, No. 07/Th.4



*posted: pkspiyungan.blogspot.com

PKS Membuatku Berubah

Sungguh sebuah kesempatan yang teramat indah bisa mengenal dan beraktifitas di partai yang satu ini, ya partai ini adalah “Partai Keadilan Sejahtera”. Partai yang telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupan saya saat ini, begitu banyak ilmu, kenangan, dan momen-momen indah yang saya dapatkan melalui PKS.

Tidak pernah sebelumnya mempunyai keinginan untuk berkecimpung dalam dunia kepartaian, karena dunia yang satu ini bagi saya sesuatu yang teramat menakjubkan. Dulu saya termasuk orang yang suka menyendiri, dan itu mengasyikkan bagi saya. Tapi setelah mengenal dan beraktifitas didalamnya, ternyata jauh lebih mengasyikan untuk bergabung dengan orang-orang yang punya komitmen yang sama melalui wadah Partai Keadilan Sejahtera.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah aktif sebagai kader PKS, diantaranya :

Bermasyarakat, partai ini mengajarkan saya untuk bisa hidup bermasyarakat dengan baik.

Banyak kegiatan yang pada akhirnya membawa saya mengenal banyak daerah-daerah yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi. Termasuk mengenal banyak orang dan akhirnya menjadi sahabat dan saudara.

Melatih Kesabaran, partai ini mengajarkan saya untuk sabar.

Karena partai tidak menawarkan sesuatu yang nyata seperti menawarkan barang dagangan, melainkan menawarkan ide-ide perubahan buat bangsa ini. Sehingga dibutuhkan perhatian dan kesabaran untuk bisa membawa masyarakat pada pemahaman dan kesadaran akan pentingnya partisipasi dalam kehidupan bernegara. Masyarakat sudah terlalu lama disuguhi stigma bahwa “politik itu kotor”, sehingga butuh kesabaran ekstra untuk merubah paradigma tersebut,.

Menjadi Tangguh & Sehat, partai ini mengajak untuk kuat dan hidup sehat jasmani dan rohani.

Alhamdulilah melalui partai ini saya mendapatkan pencerahan khususnya dalam memahami ajaran islam yang sesungguhnya. Melalui pertemuan rutin mingguan saya mendapatkan materi-materi yang membangkitkan ruhani untuk berbuat lebih baik. Bahasan-bahasan yang komprehensif tentang keislaman didapatkan dalam pertemuan ini. Selain itu kegiatan kepanduan rutin dilakukan setiap tahunnya dan diwajibkan bagi seluruh kader PKS mulai dari pimpinan puncak sampai kader biasa. Perempuan, laki-laki, bapak-bapak dan ibu-ibu tidak luput dari program tahunan ini, ada kemah dan kegiatan alam lainnya. Senam PKS menjadi kegiatan yang rutin dilakukan dan pernah masuk dalam rekor MURI. Karena dilakukan serentak diseluruh Indonesia.

Membentuk Keluarga-Keluarga yang Baik, partai ini juga memperhatikan masalah keluarga.

Melalui PKS saya mendapatkan istri yang saya cintai dengan cara yang unik menurut saya, seperti yang saya ceritakan dalam postingan kisah cintaku. Partai ini sering mengadakan pelatihan-pelatihan untuk calon-calon pengantin, pembekalan buat keluarga-keluarga yang baru menikah dan sudah lama menikah. Diharapkan dari sana terbentuk keluarga-keluarga yang berkualitas sehingga ada perubahan yang signifikan buat bangsa ini kedepan.

Demikian beberapa hal yang saya dapatkan melalui partai ini, dan masih banyak lagi hal-hal yang bermanfaat lainnya. Mengenal partai ini tidak melulu disodorkan masalah-masalah politik belaka, tapi menyentuh keseluruhan aspek kehidupan kita. Tentunya teman-teman sudah banyak mendengarkan kiprah partai ini mulai dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai kenegeri orang seperti Palestina, Afghanistan, Bosnia, Irak dan negeri-negeri islam lainnya yang mengalami penderitaan. Satu hal yang perlu diingat partai ini adalah masih kumpulan manusia bukan malaikat, sehingga kesalahan dan kealpaan masih melekat semoga kita bisa bijaksana dalam menilainya. Pelajari visi dan misi partai melalui situsnya PKS semoga akan semakin banyak pelajaran penting dan baik kita dapatkan. Mari kita sama-sama berjuang untuk perubahan kearah yang lebih baik buat bangsa ini.

by: indigo

Internasional

INSPIRASI

ARSIP BLOG

NASIONAL

 
© Copyright PKS CANDI 2013 | Update News Kota Sidoarjo | Published by M19 | PKS CANDI Mengabarkan dari Pinggiran Kota Udang .