News Update :

Parik'an

Pitik kentaki wis gak duwe wulu sing duwe wulu iku manuk puter, PeKaeS sak iki nomer urute telu sing milih telu wonge mesti pinter, Adikku tuku korek molene kesasar Ayo derek-derek suksesno 3 besar.

Post Populer

OASE

KIPRAH KAMI

KOLOM QIYADAH

Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan

Mengingat Kembali Syarat Kemenangan Dakwah

Kamis, 13 Februari 2014




(Catatan Alzena Valdis Rahayu)

PKS CANDI-Bahasan liqo tadi pagi tentang Syarat Kemenangan Dakwah bersama saudari tercinta di Masjid Al-Hurriyah Bogor. Kita ketahui dakwah yang kita lakukan adalah bukan karena harta tetapi untuk ummat. Oleh karena itu tinggal tindakan kita saja untuk dakwah ini bagaimana, dan tentunya Allah yang selalu memudahkan langkah-langkah kita. Perlu kita ingat dakwah pastilah menang, dengan atau tanpa kita. Maka, keterlibatan kita dalam dakwah adalah pilihan. Silahkan memilih, hendak jadi penontonkah, pemainkah, atau sekedar komentator dakwah. Semoga Allah berkenan menjadikan diri kita sebagai bagian dari pelaku kemenangan dakwah itu. Aamiin.
Faktor-faktor yang menjadi syarat kemenangan dakwah sebagai berikut:

Niat yang ikhlas

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Taat kepada pemimpin

Ibn Umar ra. berkata : Nabi Saw. bersabda : “Seorang muslim wajib mendengar , taat pada  pemerintahnya dalam hal yang disetujui atau tidak disetujui kecuali jika diperintah untuk maksiyat , maka apabila diperintah maksiyat tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (Terjemah Riadhus Shalihin I , Salim Bahreisy, Hal. 535 )

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Nabi Saw. pernah bersabda : “Seseorang harus mendengar dan mematuhi perintah imam selama bukan perintah maksiyat . Apabila seseorang diperintah maksiyat maka tidak boleh mendengar dan mematuhi.” ( Ringkasan Hadis Shahih Al - Bukhari, Imam Az – Zabidi , Hal. 600 )

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya  dan ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. Annisa : 59)

Sabar dan siap bersiaga 

“Sekarang Allah meringankan untukmu. Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan, maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika ada seribu orang (yang sabar) niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal: 66)

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”  (QS. Ali-Imran: 125)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 200)

Tsabat/berteguh hati

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal:45)

Tawakal kepada Allah

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni'mat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".( QS Al-Maidah: 23)

Hindari perselisihan

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntun”.. (QS. Al-Anfal: 45)

Doa dan Dzikir

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250)

Yupz hanya segitu saja yang bisa saya sampaikan terkait tentang bahasan kelompok liqo saya tadi pagi, semoga ilmu yang telah disampaikan murrobiyah saya ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dalam keseharian kita.***


*follow @Ririnsukses on twitter

Pesan Umar Bin Khattab RA Kepada Pasukannya Tentang Rahasia Kemenangan

Sabtu, 11 Januari 2014





PKS CANDI - Umar bin Khattab ra. pernah menulis sebuah surat berisi pesan untuk Sa’ad bin Abi Waqash ra. beserta pasukannya yang sedang pergi memerangi Persia di daerah Qadisiyah. Pesan ini bukan tentang strategi dan taktik perang, tapi tentang menjauhi kemaksiatan. Umar ra. menyatakan bahwa menjauhi kemaksiatan adalah kunci turunnya kemenangan dari Allah swt. Berikut pesan Umar ra. tersebut:

“Amma Ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah swt. dalam setiap keadaan. Karena takwa kepada Allah swt. adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.

Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.

Allah swt. memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatab. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh; persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.

Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah swt. mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah swt., padahal kalian sedang berada dalam jalan-Nya.

Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israel yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israel telah melakukan hal-hal yang membuat Allah swt. murka.

Mohonlah kepada Allah swt. agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian.” (msa/dakwatuna)


Engkaukah Kader Terbaik Itu ?

Rabu, 01 Januari 2014





Renungan Awal Tahun Untuk Para Kader
1 Januari 2014
PKS CANDI
  1. Kader yang baik itu selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
  2. Kader yang baik itu selalu taat kepada pemimpinnya.
  3. Kader yang baik itu selalu berbakti kepada orang tuanya.
  4. Kader yang baik itu selalu menghormati orang yang lebih tua di atasnya.
  5. Kader yang baik itu selalu bertindak dari hasil pemikiran terlebih dahulu.
  6. Kader yang baik itu selalu meminta nasihat dan memberi nasihat.
  7. Kader yang baik itu selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan kelompok dan pribadi.
  8. Kader yang baik itu selalu lebih banyak bekerja dari pada bicara dan banyak bertanya.
  9. Kader yang baik itu selalu merasa nyaman, aman dan puas kepada pemimpinnya.
  10. Kader yang baik itu selalu berusaha setiap saat memberikan karya nyata yang terbaik bagi orang banyak dari pada banyak menuntut.
  11. Kader yang baik itu selalu memandang amanah sebagai amal shalih tapi bukan kompetisi kapasitas belaka.
  12. Kader yang baik itu selalu senang dengan kehadiran orang lain dalam kerja-kerja kejamaahan, apalagi yang lebih bagus kapasitasnya dari pada dirinya.
  13. Kader yang baik itu selalu sama dalam bekerja baik saat sendiri atau beramai-ramai.
  14. Kader yang baik itu selalu paham mana tugas jundiyah dan mana tugas qiyadah.
  15. Kader yang baik itu selalu menyesuaikan diri dengan wazhifah yang datang padanya, bukan wazhifah yang menyesuaikan diri dengannya.
  16. Kader yang baik itu selalu menempatkan diri pada posisi yang salah di hadapan pemimpinnya meskipun ia benar.
  17. Kader yang baik itu selalu tidak memberatkan pemimpinnya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bisa ia jawab sendiri.
  18. Kader yang baik itu selalu menjadi problemsolver but not problem maker di mana dan dengan siapa saja.
  19. Kader yang baik itu selalu menyibukkan diri dengan koreksi keburukan sendiri dari pada melihat dan mengoreksi orang lain.
  20. Kader yang baik itu selalu mencintai tarbiyahnya dan menjadikan halaqah segala-galanya baginya, dan tidak ada segala-galanya tanpa halaqah.

  21. Jazakumullahu ahsanul jaza… semoga sifat-sifat kita termasuk ke dalam bagian-bagian tersebut. Sejatinya itulah kader yang baik, kader yang tak pernah risau dengan berakhirnya amanah maka tentulah ada amanah baru yang akan menanti. Sehingga benar-benar menguji pribadi-pribadi kita… bertemu dan reuni di surga, atau malah terpeleset hingga ke neraka…?? 

    Maka masing-masing kita yang akan menjawabnya, masing-masing kita yang akan menentukan pertemuan-pertemuan lanjutan kita. Semoga Allah kekalkan ikatannya…dan dipertemukan kembali kita di Surga-Nya.

3 Keutamaan Sedekah untuk Orang Tua yang Telah Meninggal Dunia


Kesempatan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) masih terbuka anak, meskipun orangtuanya telah meninggal dunia. Salah satu bentuknya, dengan bersedekah untuk mereka. Yakni bersedekah yang diniatkan (pahalanya) untuk orangtua.


Berikut ini hadits-hadits shahih yang menjelaskan keutamaan sedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia:


ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู„َ ู„ِู„ู†َّุจِู‰ِّ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰ ุงูْุชُู„ِุชَุชْ ู†َูْุณُู‡َุง ، ูˆَุฃَุธُู†ُّู‡َุง ู„َูˆْ ุชَูƒَู„َّู…َุชْ ุชَุตَุฏَّู‚َุชْ ، ูَู‡َู„ْ ู„َู‡َุง ุฃَุฌْุฑٌ ุฅِู†ْ ุชَุตَุฏَّู‚ْุชُ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak. Saya menduga, jika ia bisa bicara, ia akan bersedekah. Apakah ia bisa mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?" Beliau menjawab, "Ya." (HR. Bukhari)

ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰َ ุงูْุชُู„ِุชَุชْ ู†َูْุณُู‡َุง ูˆَุฅِู†ِّู‰ ุฃَุธُู†ُّู‡َุง ู„َูˆْ ุชَูƒَู„َّู…َุชْ ุชَุตَุฏَّู‚َุชْ ูَู„ِู‰َ ุฃَุฌْุฑٌ ุฃَู†ْ ุฃَุชَุตَุฏَّู‚َ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga, jika ia bisa berbicara ia akan bersedekah, apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya?" Beliau menjawab, "Ya" (HR. Muslim)

ุฃَู†ْุจَุฃَู†َุง ุงุจْู†ُ ุนَุจَّุงุณٍ - ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง - ุฃَู†َّ ุณَุนْุฏَ ุจْู†َ ุนُุจَุงุฏَุฉَ - ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ุชُูˆُูِّูŠَุชْ ุฃُู…ُّู‡ُ ูˆَู‡ْูˆَ ุบَุงุฆِุจٌ ุนَู†ْู‡َุง ، ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰ ุชُูˆُูِّูŠَุชْ ูˆَุฃَู†َุง ุบَุงุฆِุจٌ ุนَู†ْู‡َุง ، ุฃَูŠَู†ْูَุนُู‡َุง ุดَู‰ْุกٌ ุฅِู†ْ ุชَุตَุฏَّู‚ْุชُ ุจِู‡ِ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ . ู‚َุงู„َ ูَุฅِู†ِّู‰ ุฃُุดْู‡ِุฏُูƒَ ุฃَู†َّ ุญَุงุฆِุทِู‰ ุงู„ْู…ِุฎْุฑَุงูَ ุตَุฏَู‚َุฉٌ ุนَู„َูŠْู‡َุง

Ibnu Abbas memberitakan kepada kami bahwa Sa'ad bin Ubadah r.a. sedang tidak ada di tempat ketika ibunya meninggal. Ia berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedang saya tidak di sana. Apakah sesuatu berguna untuknya, jika kusedekahkan untuknya?" Beliau menjawab, "Ya." Ia berkata, "Sesungguhnya saya persaksikan kepadamu bahwa kebunku Al Mikhraf menjadi sedekah untuk ibuku." (HR. Bukhari)


ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู„َ ู„ِู„ู†َّุจِู‰ِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฅِู†َّ ุฃَุจِู‰ ู…َุงุชَ ูˆَุชَุฑَูƒَ ู…َุงู„ุงً ูˆَู„َู…ْ ูŠُูˆุตِ ูَู‡َู„ْ ูŠُูƒَูِّุฑُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†ْ ุฃَุชَุตَุฏَّู‚َ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Seseorang berkata kepada Nabi, "Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan tidak berwasiat, apakah sedekahku bisa menebus (kesalahan) nya?" Beliau menjawab, "Ya" (HR. Muslim)


Dari hadits-hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bersedekah untuk orangtua yang telah meninggal dunia memiliki 3 keutamaan:
1. Pahala sedekah sampai kepada orangtua yang telah meninggal dunia
2. Sedekah tersebut bermanfaat/berguna bagi orangtua yang telah berada di alam barzah
3. Sedekah tersebut dapat menjadi penebus kesalahan orangtua

Wallahu a'lam bish shawab. [Disarikan bersamadakwah dari Fadha'il A'mal (Ash Shahih al Musnad min Fadha'il A'mal) karya Ali bin Muhammad Al Maghribi]

Bencana Alam dan Reformasi Politik dalam Kisah Al-Qur’an

Senin, 30 Desember 2013



Patung Ramses II

Sebagai manusia berakidah, tentunya kita tidak bisa melewatkan begitu saja bila terjadi sebuah bencana. Ada banyak pesan yang dititipkan fenomena alam jika terlihat tidak bersahabat. Karena ternyata alam diciptakan dengan sistem sangat sempurna. Telah sekian milyar tahun semua berjalan dengan dinamis. Hukum sangat dihormati, hingga kenyamanan dan kedamaian pun tercipta. Bila terlihat sebuah perubahan, pasti karena pihak lain. Tangan yang dengan sadar atau tidak, melanggar hukum lalu merusak tatanan serasi alam. (Ar-Rum: 41).

Bencana sudah banyak terjadi. Bermunculan bersama alur sejarah kejahatan manusia yang panjang. Semuanya sama, walaupun berlainan dimensi. Yang membedakan hanyalah bagaimana masing-masing bersikap. Apakah kita merasa ditegur, atau menganggapnya biasa-biasa saja.

Al-Qur’an sarat dengan sejarah kaum-kaum yang terderai bencana. Bahkan lantaran bandel, banyak yang ditutup sejarahnya. Generasi mereka tidak bisa berantai lagi. Yang tertinggal hanyalah nama, yang disebut-sebut saat orang belajar pengalaman pahit.

Pada abad 19 SM, Mesir kuno diperintah oleh Hexos. Seorang raja dari kaum penggembala Asia yang berhasil merebut kekuasaan saat dinasti ke-13 terjangkiti krisis politik. Menurut sejarawan, di masa itulah kisah nabi Yusus as, peraih semua nominasi keindahan, bersetting.

Mesir didapati nabi Yusuf muda sangat berbeda dengan negeri asalnya, Palestina. Penyembahan dewa-dewa (Yusuf: 40). Nepotisme yang menjadi ruh politik dan hukum, hingga elit politik seenaknya menghukum tanpa pengadilan (Yusuf: 32, 36). Moral masyarakat yang jungkir-balik tak beraturan; hingga seorang isteri tanpa rasa malu merayu bahkan memaksa budaknya (Yusuf: 23); seorang suami tak lagi punya cemburu (Yusuf: 29), bahkan membuka kesempatan lebar-lebar isterinya untuk beraffair dengan membiarkan mereka tetap seatap; isteri-isteri kalangan elit yang bersatu padu dalam makar mesum (Yusuf: 33, 50). Bila elit politik demikian, kalangan jelata pun takkan jauh berbeda.

Lewat mimpi, Allah SWT memberitakan datangnya bencana. Paceklik akan melanda negeri subur ini selama 7 tahun. Raja cepat bertindak. Entah karena tanggung jawab, atau karena prestise super powernya terancam ambruk. Yusuf as. pun datang sebagai tokoh reformasi dengan solusi yang tepat, pada timing yang tepat. Beliau mengusung perbaikan pada sektor pertanian dan teknologi pasca panen (Yusuf: 47), manajemen keuangan negara (Yusuf: 55), dan politik ekonomi luar negeri (Yusuf: 49). Semua dilakukan dalam rangka dakwah menuju negara yang bertauhid. Karena tak mungkin beliau menyiakan peluang emas ini, sedangkan di dalam penjara saja beliau aktif berdakwah (Yusuf: 37-40).

Ternyata raja masih mau berlogika; menyambut usulan-usulan itu (Yusuf: 54). Tapi menurut Yusuf as., solusi baru manjur setelah dijalankan reformasi. Terutama dalam bidang norma dan hukum. Yusuf as., yang korban nepotisme hukum, tak mau keluar penjara sebelum namanya direhabilitasi (Yusuf: 50). Diadakanlah pengadilan yang melibatkan semua pihak terkait tanpa kecuali (Yusuf: 51). Perlakuan hukum yang tidak membedakan golongan dan strata sosial ini nantinya akan membuka kunci reformasi di bidang yang lain. Keberhakan atas jabatan pun hanya didasarkan pada kapabelitas pejabat (Yusuf: 55, 56), sehingga terwujud keadilan dan profesionalisme.

Beruntunglah negeri ini; selamat dari ancaman bencana, bahkan menjadi negara donor dan pensuplai pangan masyarakat dunia. Walau kondisi keagamaan belum tereformasi dengan sempurna (Yusuf: 76), dan raja masih belum bertauhid. Ternyata bencana bisa disulap menjadi kenikmatan. Syaratnya, ada reformasi pada sektor-sektor vital. Minimal dalam membebaskan negara dari gurita KKN. Kondisi negara yang hormat reformasi sangat kondusif untuk perbaikan keagamaan umat.

Sekarang, coba kita bandingkan dengan kebijakan politik lain. Masih di Mesir kuno. Pada dinasti ke-19, Ramses II, yang ditengarai sejarawan adalah Fir’aun penentang nabi Musa as. pada abad ke-13 SM ini, memakai politik otoriter. Demi mencerabut ideologi lawan dan melanggengkan status quo, dia dengan tega mengusir dan membunuh, bahkan kepada bayi-bayi merah yang masih dalam buaian.

Penggemar berat sihir ini punya hukum sendiri yang dipaksakan kepada rakyat. Diapun mengklaim diri sebagai tuhan (An-Nazi’at: 24). Bukan tuhan yang dipuja dan disembah. Karena dalam sejarah, orang Mesir tidak pernah menyembah raja (Fi Dzilal Al-Qur’an: 1353). Juga karena ternyata Ramses II pun menyembah para dewa (Al-A’raf: 127). Karena menaati aturan raja yang berseberangan dengan Islam adalah sebuah penyembahan (lihat kisah Adiy bin Hatim, riwayat Tirmizi).

Suatu saat, kesombongannya terusik. Mesir dilanda kemarau panjang yang melaparkan seluruh negeri (Al-A’raf: 130). Namun penguasa Nil ini masih saja menyombongkan kekuasaannya. Kadang bencana yang tak tertanggulangi itu memaksanya turun bargaining, dan harus berdialog dengan Musa as. untuk mencari solusi (Al-A’raf: 134).

Dalam setiap dialog, Fir’aun berkomitmen untuk beriman kepada Allah dan tidak berbuat kezaliman. Setelah bencana dihentikan, dia pun ingkar janji. Akhirnya dikirimlah bencana secara beruntun. Datanglah taufan, belalang, kutu, katak, dan darah (Al-A’raf: 133). Fir’aun tak berubah; kezaliman terus saja terjadi. Bahkan nabi Musa as. yang selama ini turut meringankan bencana pun dikejar-kejar, hingga akhirnya Fir’aun dan tentaranya dibinasakan di laut Merah (Yunus: 90). Yang tersisa hanyalah mumi tubuhnya yang sarat pelajaran berharga (Yunus: 92).

Itulah dua sikap dengan dua konsekwensi. Bahwa bencana harus diyakini akibat sebuah kesalahan. Logikanya, kalau Islam menganjurkan istighfar saat tertusuk duri, apakah sebuah negeri hancur bukan karena dosa? Dalam hal ini, introspeksi pun harus berskala nasional. Yang paling bertanggung jawab adalah para pembuat keputusan. Mereka harus mengaktifkan hati agar pesan bencana dapat diterima; membuka telinga agar suara pelopor kebaikan bisa didengar. Kemudian bagi para pecinta keadilan dan kesejahteraan agar lebih concern terhadap kondisi umat; jadilah Yusuf dan Musa negeri ini. Jangan sampai negeri kita hilang digilas sejarah. Karena sejarah pasti akan mengulang kembali peristiwa-peristiwanya. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)

Kisah Hakim Adil yang Memenangkan Nasrani melawan Khalifah Harun Ar Rasyid

Minggu, 01 Desember 2013






Oleh Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo


Imam Abu Yusuf adalah salah seorang murid dan pewaris mazhab Abu Hanifah. Dan beliau adalah qadhil qudhah (hakim agung) di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid.

Beliau pernah mengadili antara Khalifah Harun Ar Rasyid dan seorang yang beragama Nashrani dalam satu sengketa yang terjadi di antara mereka berdua.

Dalam perkara itu Abu Yusuf memenangkan orang Nashrani, dan Harun pada pihak yang kalah. Karena memang terbukti kebenaran berpihak kepada orang Nashrani.

Ketika Abu Yusuf sudah hampir meninggal, beliau bermunajat:

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa aku sudah menduduki jabatan ini. Aku tidak pernah cenderung kepada salah seorang dari dua orang yang bersengketa walaupun di dalam hatiku.

Kecuali ketika seorang Nashrani bersengketa dengan Harun Ar Rasyid. Aku tidak menyamakan di antara mereka berdua dalam perasaan. Karena aku berharap di dalam hatiku supaya kebenaran berada di pihak Ar Rasyid, sekalipun akhirnya aku menangkan orang Nashrani itu, karena memang dia dalam posisi benar".

Kemudian beliau menangis.

Lihatlah kisah ini dengan penuh pentadabburan, bermacam pelajaran kita dapatkan. Di antaranya:

1. Betapa cemasnya Abu Yusuf atas tindakan tidak adil yang beliau lakukan, sekalipun hanya di dalam perasaan, dan tidak mempengaruhi kepada keputusan.

Barangkali bagi kita perkara biasa bila beliau lebih cenderung kepada Ar Rasyid yang muslim dari pada lawannya yang beragama Nashrani. Tapi tidak demikian dengan timbangan keadialan yang dipahami oleh Abu Yusuf.

Bila ukuran hakim adil itu seperti Abu Yusuf, bagaimana kira-kira dengan hakim-hakim yang ada sekarang ini?

Bagi yang berprofesi sebagai hakim atau bercita-cita menjadi hakim, sangat perlu menempelkan kisah Abu Yusuf ini di keningnya. Supaya jadi rem dan rambu-rambu ketika dia mengadili antara orang yang berkesumat.

2. Alangkah halusnya barometer dosa bagi seorang ulama sekaligus hakim seperti Abu Yusuf. Hanya bisikan di dalam hati yang tidak berdampak kepada perbuatan dianggap sebuah dosa yang akan memberatkan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Alangkah bening dan bersihnya hati beliau.

Kita hari ini amat butuh kepada hakim-hakim adil seperti beliau yang mulia ini. Demi tegaknya keadialan dan kebenaran di permukaan bumi.

Semoga rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan setiap hakim adil serta kita semua.

BEGINILAH JALAN DAKWAH MENGAJARKAN KAMI

Sabtu, 11 Mei 2013



Islamedia - Beginilah jalan dakwah mengajarkan Kami
Untuk tidak mudah patah dalam setiap kegagalan
dan tidak begitu saja menyerah pada keadaan
Karna dakwah tidak pernah melahirkan seorang pecundang
Hanya ada dua jalan yang sama-sama menang
'isy kariiman aumut syahiidan..

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami
Untuk tetap setia dan loyal pada setiap amanah yang dititipkan
Keluh dan kesah bukanlah aral untuk mencium aroma perjuangan
Karena azzam telah mengikat diri pada kesucian niatan
Untuk bertakbir penuh kemenangan pada saatnya datang

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami
Untuk tidak mudah membagi Cinta selain untuk Tuhan
Meski racun dunia telah menebar kesesatan
Dan terus mencoba mengunci hati dari kebenaran


=================================================

Saudaraku, adakalanya kita merasa lelah dan ingin berhenti.
Adakalanya pula kita merasa jenuh dan merasa tak berguna lagi.
Namun, apalah yg dakwah minta dari kita?
Tidak ada!
Karena sampai kapanpun dakwah tidak pernah membutuhkan kita.
Dakwah tidak pernah merindukan kita manakala kita memutuskan untuk rehat terlalu lama.
Dakwah pun masih akan terus berjalan tanpa kesertaan kita dalam barisannya.

Namun... apa jadinya kita tanpa dakwah?
Layaknya seonggok daging hidup yang kehilangan orientasi nyata bukan?
Jika tidak ridho-Nya, apa lantas yg kita targetkan? Hartakah.. Kekuasaankah.. atau wanita?
Jika kini kau sedang bersemangat untuk terus berada di dalam barisannya, lihatlah sekelilingmu.
Mungkin saja sedang ada seorang partnermu yg hampir jatuh dan tersingkir dari barisan mulia ini.
Ulurkanlah tanganmu dan tariklah ia untuk masuk kembali dalam shaf di belakangmu.

Namun, jika kau kini justru hampir terjatuh dan keluar track, maka ulurkanlah pula tanganmu untuk menggapai saudaramu yang masih berbaris rapi dalam shaf indah itu.

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami..
Untuk saling menjaga dari ketertinggalan dalam shaf mulia ini.

Allahu'alam bishowab.

(islamedia.com)

Sepenggal Firdaus itu Bermula dari Rumah Kita

Minggu, 05 Mei 2013








"Renungan Keluarga dari Negeri Surga"

Kita berharap merealisasikan Indonesia sebagai Sepenggal Firdaus bagi Dunia...
Sudahkah kita berupaya menjadikan Rumah kita sebagai Surga Dunia?

Seorang Istri yang shalihah akan menjadikan Rumah tentram dan menyenangkan...
Seorang Suami yang shalih akan menjadikan Rumah aman dan nyaman...
Anak-anak yang shalih-shalihah akan menjadi permata penghias nan menyejukkan...

Bagaimana dengan Rumah Kita?
Bagaimana dengan Suami Kita?
Bagaimana dengan Istri Kita?
Bagaimana dengan Anak-anak kita?

Sudahkah kita hadirkan Surga yang menentramkan di "Rumah" kita?
Ataukah kita lebih nyaman menghiasinya dengan gemerincing harta tanpa makna?

Jadikan momentum pagi ini...
...sebagai tonggak baru menghidupkan rumah kita...
...sebagai tonggak baru menyinari rumah kita...

Saling hidupkan Tarbiyah Dzatiyah dan Ruhiyah dalam Usrah Muslimah...
Saling menjaga tilawah dan mengingatkan untuk Shalat berjama'ah...
Saling menguatkan hafalan dan membiasakan shadaqah...
Saling mendukung aktifitas dakwah dan menghidupkan nuansa harakiyyah...

Kita berharap merealisasikan Indonesia sebagai Sepenggal Firdaus bagi Dunia...
Sadarlah bahwa semua berawal dari Rumah setiap kader dakwah yang ada...
Sudahkah Rumah kita menjadi syurga bagi jiwa-jiwa fana?

Semoga Allah Azza wa Jalla memberkahi ikhtiar kita...
Menjadikan Indonesia sepenggal Firdaus bagi masyarakat dunia...
Diawali dengan menjadikan Rumah kita sebagai Surga bagi penghuninya...
Rumah yang berfungsi sebagai Busur Panah yang kokoh dan perkasa...
Ladang Penyemaian yang kelak menghasilkan anak-anak panah peradaban...
Anak panah yang berjiwa ksatria...
Penghulu Gerak dan Kerja Dakwah...
Yang siap dilepaskan mengoyak sendi-sendi kemungkaran dunia...

Rumah kita...Keluarga kita...Inspirasi Keluarga Penghulu Surga...

Wallahua'lam
Barakallahu fiik...

24 Jumadil Akhir 1434 H

Noorahmat Abu Mubarak (@noorahmat)
Fitry Ratnasari UmmuZa (@ummuza)











Madrasah Pertamaku adalah “Ibu”

Rabu, 24 April 2013




Ilustrasi. (inet)


dakwatuna.com - Berbicara tentang peran ibu kembali mengingatkanku ketika awal di mana aku harus tinggal jauh dari kedua orang tuaku. Ketika itu usiaku menginjak umur 12 tahun dan baru akan memulai hidup baru yang tentunya berbeda dengan kehidupan sebelumnya yaitu masuk pondok pesantren Husnul Khotimah di Kuningan. Cukup jauh dirasa ketika itu karena harus menempuh waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Ketika itu, pada masa POS-HK (MOS), ada momen yang sengaja dibuat oleh panitia agar semua santri baru mengingat ibunya, perjuangannya, pengorbanannya, dan hal lainnya yang membuat semua santri mencucurkan air mata. Adalah melalui sebuah lagu yang kami nyanyikan bersama dengan penuh pemaknaan disertai kerinduan yang amat sangat dirasakan oleh kami pada sosok ibu.

Pada bagian lirik lagu itu dikatakan bahwa “sedari kecil hingga dewasa, ibu menjaga, membelai penuh manja”. Sebuah gambaran yang menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu pada anaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika dalam kandungan, sembilan bulan lamanya seorang anak diasuh, dirawat dengan penuh perhatian dan kehati-hatian. Ketika sedang mengandung seorang ibu senantiasa menjaga sikap, emosi, makanan, kesehatan dan hal lainnya. Semua itu dilakukan karena seorang ibu tidak ingin anak yang sedang dikandungnya mendapat dampak buruk dari kecerobohan yang dilakukan.

Dalam bersikap seorang ibu yang sedang hamil terlihat lebih santun dan sabar, hal itu dikarenakan sang ibu pun sadar bahwa sejak dalam kandungan dia sudah mulai mendidik anaknya. Di saat sang ibu marah, anak yang dalam kandungan pun akan merespon marah tersebut dan berdampak tak baik bagi perkembangan otak anak. Demikian juga saat sang ibu membaca Al-Quran, maka anak dalam kandungan pun meresponnya dengan baik dan membentuk sifat yang baik pula. Kalangan ahli kedokteran dan ilmu jiwa menyarankan agar mendidik anak diawali dari saat dalam kandungan. Maka tidaklah salah jika seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya.

Menjadi sosok mulia penuh cinta, seorang ibu menjadi tumpuan utama dalam mencetak generasi tangguh, cerdas dan berakhlak mulia yang akan memunculkan sebuah harapan untuk memimpin umat ini di masa yang akan datang. Sebagai madrasah yang tentunya akan banyak ilmu yang disampaikan dan diajarkan, seorang ibu haruslah memiliki wawasan keilmuan yang luas. Di sanalah seorang anak pertama kali belajar bersikap, belajar mengenal Tuhannya, belajar mengenal apa yang ada di sekitarnya, semuanya berawal di madrasah itu. Ibu sebagai lembaga pendidikan tentunya harus dipersiapkan dengan baik. Seperti kutipan dari perkataan Ahmad Syauqi bahwa,“Seorang wanita (ibu) adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar digdaya”. Maka wajiblah jika seperti itu kepada seluruh wanita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Tanpa ilmu dan pemahaman yang benar mungkin generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia tidak akan pernah terwujud selama-lamanya.

Namun saat ditengok pada realita yang ada, masih banyak para wanita yang tidak menganggap penting sebuah pendidikan bagi dirinya. Mereka berpendapat, ”buat apa sekolah tinggi-tinggi toh kalo nantinya cuma jadi ibu rumah tangga?” atau ada juga mereka yang bersemangat mengejar gelar pendidikan setinggi-tingginya namun dengan tujuan hanya untuk kepentingan karirnya saja. Sehingga ketika punya anak dia dengan sangat mudah mengalihkan fungsi ibu yang seharusnya diperankan olehnya kepada pembantu yang biasanya tidak begitu diperhatikan latar belakang pendidikannya, oleh karena itu waktu untuk anak pun sangatlah terbatas bahkan mungkin tidak ada. Tidak aneh jadinya ketika melihat seorang anak yang sangat sulit untuk diarahkan atau bahkan terjerumus dalam pergaulan bebas yang menghancurkan masa depannya. Hal itu menjadi salah satu akibat kurangnya kasih sayang yang diberikan kedua orangtua khususnya dari seorang ibu.

Hmm… sungguh disayangkan sekali realita yang terjadi saat ini, ketidakpahaman yang berujung pada kesalahpahaman dalam memandang pendidikan berimbas pada nasib generasi masa depan.

Ketahuilah wahai para wanita, sungguh derajat muliamu sudah ditinggikan posisinya oleh Allah SWT, seperti dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Dari Abu Hurairah berkata: “Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya? Rasulullah menjawab: Ibumu, Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu, dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah kembali menjawab: Ibumu, lalu dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Bapakmu.”(HR. Bukhari: 5971, Muslim: 2548). Mulianya engkau hingga diulang tiga kali Nabi Muhammad SAW menyebutmu sebelum akhirnya ayah setelah itu.

Saudariku yang insya Allah di kemudian hari kan menjadi seorang ibu, menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan rendahan bahkan hina. Sungguh itulah pekerjaan muliamu yang membuka peluang bagimu mendulang pahala sebagai tabungan akhiratmu. Dengannya engkau dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia bagi bangsa juga agama. Ilmu yang engkau dapatkan dari pendidikan formal sampai tingkat tertinggi pun tak akan menjadi sebuah kesia-sian karena dengannya engkau dapat berbagi dengan anakmu kelak sehingga dia menjadi sosok unggul di masa depannya. Mulia dan sangatlah berarti peran seorang ibu.

Untuk mengakhiri, ingin kusampaikan bahwa tanpamu (ibu) mungkin tak bisa ku menulis sepanjang ini, tak bisa ku mengenal Allah SWT sebagai Tuhanku seperti sekarang ini. Engkaulah yang pertama kali mengenalkan semua itu padaku, kau ajarkan dengan kesabaranmu. Ibu, sungguh kau lah madrasah pertama bagiku.

Sedikit ku selipkan lagu indah pada penutup tulisan ini tentang sosok ibu untuk mengingat akan jasa-jasanya dan sebagai penawar rasa rindu padanya.


Kasihnya Ibu
Kasihnya ibu tulus sejati
Seperti rasul. taatnya pada ilahi
Ikhlas suci kekal abadi
Kasihnya tak dapat ditukar ganti

Sedari kecil, hingga dewasa
Ibu menjaga, membelai penuh manja
Sabar tanpa penat dan lelah
Karena kewajiban dan amanah

Kini engkau telah dewasa
Hati ibu mesti dijaga
Jangan jadi anak durhaka
Kasihnya ibu membawa ke surga.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/12/31148/madrasah-pertamaku-ibu/#ixzz2RL40VJRy

AL-KHANSA BINTI AMRU | lbu Para Mujahid

Sabtu, 20 April 2013




Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda.” Rasuluilah SAW bersabda, ‘Siapakah mereka itu. Sebutkaniah namanya.’ Adi menjawab, ‘Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.’ Rasuluilah SAW menukas, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.’ Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, ‘Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.’ Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, ‘Mengapa matamu bengkak-bengkak?’ Khansa menjawab, ‘Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu.” Umar berkata, ‘Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.’ Sahut Khansa, ‘Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.’ Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melialui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata, ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.Jika kalian telah melihat perang, singsingkaniah lengan baju dan berangkatiah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akherat. Negeri keabadian. Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.’ Pemuda-pemuda itupun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang matl-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, ‘Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.’ Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah. (Wanita-wanita Sahabiyah)

Dari : www.sahabatnabi.0catch.com

Internasional

INSPIRASI

ARSIP BLOG

NASIONAL

 
© Copyright PKS CANDI 2013 | Update News Kota Sidoarjo | Published by M19 | PKS CANDI Mengabarkan dari Pinggiran Kota Udang .