News Update :

Parik'an

Pitik kentaki wis gak duwe wulu sing duwe wulu iku manuk puter, PeKaeS sak iki nomer urute telu sing milih telu wonge mesti pinter, Adikku tuku korek molene kesasar Ayo derek-derek suksesno 3 besar.

Post Populer

OASE

KIPRAH KAMI

KOLOM QIYADAH

Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan

Mengingat Kembali Syarat Kemenangan Dakwah

Kamis, 13 Februari 2014




(Catatan Alzena Valdis Rahayu)

PKS CANDI-Bahasan liqo tadi pagi tentang Syarat Kemenangan Dakwah bersama saudari tercinta di Masjid Al-Hurriyah Bogor. Kita ketahui dakwah yang kita lakukan adalah bukan karena harta tetapi untuk ummat. Oleh karena itu tinggal tindakan kita saja untuk dakwah ini bagaimana, dan tentunya Allah yang selalu memudahkan langkah-langkah kita. Perlu kita ingat dakwah pastilah menang, dengan atau tanpa kita. Maka, keterlibatan kita dalam dakwah adalah pilihan. Silahkan memilih, hendak jadi penontonkah, pemainkah, atau sekedar komentator dakwah. Semoga Allah berkenan menjadikan diri kita sebagai bagian dari pelaku kemenangan dakwah itu. Aamiin.
Faktor-faktor yang menjadi syarat kemenangan dakwah sebagai berikut:

Niat yang ikhlas

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Taat kepada pemimpin

Ibn Umar ra. berkata : Nabi Saw. bersabda : “Seorang muslim wajib mendengar , taat pada  pemerintahnya dalam hal yang disetujui atau tidak disetujui kecuali jika diperintah untuk maksiyat , maka apabila diperintah maksiyat tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (Terjemah Riadhus Shalihin I , Salim Bahreisy, Hal. 535 )

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Nabi Saw. pernah bersabda : “Seseorang harus mendengar dan mematuhi perintah imam selama bukan perintah maksiyat . Apabila seseorang diperintah maksiyat maka tidak boleh mendengar dan mematuhi.” ( Ringkasan Hadis Shahih Al - Bukhari, Imam Az – Zabidi , Hal. 600 )

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya  dan ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. Annisa : 59)

Sabar dan siap bersiaga 

“Sekarang Allah meringankan untukmu. Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan, maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika ada seribu orang (yang sabar) niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal: 66)

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”  (QS. Ali-Imran: 125)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 200)

Tsabat/berteguh hati

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal:45)

Tawakal kepada Allah

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni'mat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".( QS Al-Maidah: 23)

Hindari perselisihan

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntun”.. (QS. Al-Anfal: 45)

Doa dan Dzikir

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250)

Yupz hanya segitu saja yang bisa saya sampaikan terkait tentang bahasan kelompok liqo saya tadi pagi, semoga ilmu yang telah disampaikan murrobiyah saya ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dalam keseharian kita.***


*follow @Ririnsukses on twitter

Pesan Umar Bin Khattab RA Kepada Pasukannya Tentang Rahasia Kemenangan

Sabtu, 11 Januari 2014





PKS CANDI - Umar bin Khattab ra. pernah menulis sebuah surat berisi pesan untuk Sa’ad bin Abi Waqash ra. beserta pasukannya yang sedang pergi memerangi Persia di daerah Qadisiyah. Pesan ini bukan tentang strategi dan taktik perang, tapi tentang menjauhi kemaksiatan. Umar ra. menyatakan bahwa menjauhi kemaksiatan adalah kunci turunnya kemenangan dari Allah swt. Berikut pesan Umar ra. tersebut:

“Amma Ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah swt. dalam setiap keadaan. Karena takwa kepada Allah swt. adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.

Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.

Allah swt. memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatab. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh; persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.

Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah swt. mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah swt., padahal kalian sedang berada dalam jalan-Nya.

Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israel yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israel telah melakukan hal-hal yang membuat Allah swt. murka.

Mohonlah kepada Allah swt. agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian.” (msa/dakwatuna)


Engkaukah Kader Terbaik Itu ?

Rabu, 01 Januari 2014





Renungan Awal Tahun Untuk Para Kader
1 Januari 2014
PKS CANDI
  1. Kader yang baik itu selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
  2. Kader yang baik itu selalu taat kepada pemimpinnya.
  3. Kader yang baik itu selalu berbakti kepada orang tuanya.
  4. Kader yang baik itu selalu menghormati orang yang lebih tua di atasnya.
  5. Kader yang baik itu selalu bertindak dari hasil pemikiran terlebih dahulu.
  6. Kader yang baik itu selalu meminta nasihat dan memberi nasihat.
  7. Kader yang baik itu selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan kelompok dan pribadi.
  8. Kader yang baik itu selalu lebih banyak bekerja dari pada bicara dan banyak bertanya.
  9. Kader yang baik itu selalu merasa nyaman, aman dan puas kepada pemimpinnya.
  10. Kader yang baik itu selalu berusaha setiap saat memberikan karya nyata yang terbaik bagi orang banyak dari pada banyak menuntut.
  11. Kader yang baik itu selalu memandang amanah sebagai amal shalih tapi bukan kompetisi kapasitas belaka.
  12. Kader yang baik itu selalu senang dengan kehadiran orang lain dalam kerja-kerja kejamaahan, apalagi yang lebih bagus kapasitasnya dari pada dirinya.
  13. Kader yang baik itu selalu sama dalam bekerja baik saat sendiri atau beramai-ramai.
  14. Kader yang baik itu selalu paham mana tugas jundiyah dan mana tugas qiyadah.
  15. Kader yang baik itu selalu menyesuaikan diri dengan wazhifah yang datang padanya, bukan wazhifah yang menyesuaikan diri dengannya.
  16. Kader yang baik itu selalu menempatkan diri pada posisi yang salah di hadapan pemimpinnya meskipun ia benar.
  17. Kader yang baik itu selalu tidak memberatkan pemimpinnya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bisa ia jawab sendiri.
  18. Kader yang baik itu selalu menjadi problemsolver but not problem maker di mana dan dengan siapa saja.
  19. Kader yang baik itu selalu menyibukkan diri dengan koreksi keburukan sendiri dari pada melihat dan mengoreksi orang lain.
  20. Kader yang baik itu selalu mencintai tarbiyahnya dan menjadikan halaqah segala-galanya baginya, dan tidak ada segala-galanya tanpa halaqah.

  21. Jazakumullahu ahsanul jaza… semoga sifat-sifat kita termasuk ke dalam bagian-bagian tersebut. Sejatinya itulah kader yang baik, kader yang tak pernah risau dengan berakhirnya amanah maka tentulah ada amanah baru yang akan menanti. Sehingga benar-benar menguji pribadi-pribadi kita… bertemu dan reuni di surga, atau malah terpeleset hingga ke neraka…?? 

    Maka masing-masing kita yang akan menjawabnya, masing-masing kita yang akan menentukan pertemuan-pertemuan lanjutan kita. Semoga Allah kekalkan ikatannya…dan dipertemukan kembali kita di Surga-Nya.

3 Keutamaan Sedekah untuk Orang Tua yang Telah Meninggal Dunia


Kesempatan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) masih terbuka anak, meskipun orangtuanya telah meninggal dunia. Salah satu bentuknya, dengan bersedekah untuk mereka. Yakni bersedekah yang diniatkan (pahalanya) untuk orangtua.


Berikut ini hadits-hadits shahih yang menjelaskan keutamaan sedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia:


ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู„َ ู„ِู„ู†َّุจِู‰ِّ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰ ุงูْุชُู„ِุชَุชْ ู†َูْุณُู‡َุง ، ูˆَุฃَุธُู†ُّู‡َุง ู„َูˆْ ุชَูƒَู„َّู…َุชْ ุชَุตَุฏَّู‚َุชْ ، ูَู‡َู„ْ ู„َู‡َุง ุฃَุฌْุฑٌ ุฅِู†ْ ุชَุตَุฏَّู‚ْุชُ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak. Saya menduga, jika ia bisa bicara, ia akan bersedekah. Apakah ia bisa mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?" Beliau menjawab, "Ya." (HR. Bukhari)

ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰َ ุงูْุชُู„ِุชَุชْ ู†َูْุณُู‡َุง ูˆَุฅِู†ِّู‰ ุฃَุธُู†ُّู‡َุง ู„َูˆْ ุชَูƒَู„َّู…َุชْ ุชَุตَุฏَّู‚َุชْ ูَู„ِู‰َ ุฃَุฌْุฑٌ ุฃَู†ْ ุฃَุชَุตَุฏَّู‚َ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga, jika ia bisa berbicara ia akan bersedekah, apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya?" Beliau menjawab, "Ya" (HR. Muslim)

ุฃَู†ْุจَุฃَู†َุง ุงุจْู†ُ ุนَุจَّุงุณٍ - ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง - ุฃَู†َّ ุณَุนْุฏَ ุจْู†َ ุนُุจَุงุฏَุฉَ - ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ุชُูˆُูِّูŠَุชْ ุฃُู…ُّู‡ُ ูˆَู‡ْูˆَ ุบَุงุฆِุจٌ ุนَู†ْู‡َุง ، ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّ ุฃُู…ِّู‰ ุชُูˆُูِّูŠَุชْ ูˆَุฃَู†َุง ุบَุงุฆِุจٌ ุนَู†ْู‡َุง ، ุฃَูŠَู†ْูَุนُู‡َุง ุดَู‰ْุกٌ ุฅِู†ْ ุชَุตَุฏَّู‚ْุชُ ุจِู‡ِ ุนَู†ْู‡َุง ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ . ู‚َุงู„َ ูَุฅِู†ِّู‰ ุฃُุดْู‡ِุฏُูƒَ ุฃَู†َّ ุญَุงุฆِุทِู‰ ุงู„ْู…ِุฎْุฑَุงูَ ุตَุฏَู‚َุฉٌ ุนَู„َูŠْู‡َุง

Ibnu Abbas memberitakan kepada kami bahwa Sa'ad bin Ubadah r.a. sedang tidak ada di tempat ketika ibunya meninggal. Ia berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedang saya tidak di sana. Apakah sesuatu berguna untuknya, jika kusedekahkan untuknya?" Beliau menjawab, "Ya." Ia berkata, "Sesungguhnya saya persaksikan kepadamu bahwa kebunku Al Mikhraf menjadi sedekah untuk ibuku." (HR. Bukhari)


ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู„َ ู„ِู„ู†َّุจِู‰ِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฅِู†َّ ุฃَุจِู‰ ู…َุงุชَ ูˆَุชَุฑَูƒَ ู…َุงู„ุงً ูˆَู„َู…ْ ูŠُูˆุตِ ูَู‡َู„ْ ูŠُูƒَูِّุฑُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†ْ ุฃَุชَุตَุฏَّู‚َ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ

Seseorang berkata kepada Nabi, "Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan tidak berwasiat, apakah sedekahku bisa menebus (kesalahan) nya?" Beliau menjawab, "Ya" (HR. Muslim)


Dari hadits-hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bersedekah untuk orangtua yang telah meninggal dunia memiliki 3 keutamaan:
1. Pahala sedekah sampai kepada orangtua yang telah meninggal dunia
2. Sedekah tersebut bermanfaat/berguna bagi orangtua yang telah berada di alam barzah
3. Sedekah tersebut dapat menjadi penebus kesalahan orangtua

Wallahu a'lam bish shawab. [Disarikan bersamadakwah dari Fadha'il A'mal (Ash Shahih al Musnad min Fadha'il A'mal) karya Ali bin Muhammad Al Maghribi]

Bencana Alam dan Reformasi Politik dalam Kisah Al-Qur’an

Senin, 30 Desember 2013



Patung Ramses II

Sebagai manusia berakidah, tentunya kita tidak bisa melewatkan begitu saja bila terjadi sebuah bencana. Ada banyak pesan yang dititipkan fenomena alam jika terlihat tidak bersahabat. Karena ternyata alam diciptakan dengan sistem sangat sempurna. Telah sekian milyar tahun semua berjalan dengan dinamis. Hukum sangat dihormati, hingga kenyamanan dan kedamaian pun tercipta. Bila terlihat sebuah perubahan, pasti karena pihak lain. Tangan yang dengan sadar atau tidak, melanggar hukum lalu merusak tatanan serasi alam. (Ar-Rum: 41).

Bencana sudah banyak terjadi. Bermunculan bersama alur sejarah kejahatan manusia yang panjang. Semuanya sama, walaupun berlainan dimensi. Yang membedakan hanyalah bagaimana masing-masing bersikap. Apakah kita merasa ditegur, atau menganggapnya biasa-biasa saja.

Al-Qur’an sarat dengan sejarah kaum-kaum yang terderai bencana. Bahkan lantaran bandel, banyak yang ditutup sejarahnya. Generasi mereka tidak bisa berantai lagi. Yang tertinggal hanyalah nama, yang disebut-sebut saat orang belajar pengalaman pahit.

Pada abad 19 SM, Mesir kuno diperintah oleh Hexos. Seorang raja dari kaum penggembala Asia yang berhasil merebut kekuasaan saat dinasti ke-13 terjangkiti krisis politik. Menurut sejarawan, di masa itulah kisah nabi Yusus as, peraih semua nominasi keindahan, bersetting.

Mesir didapati nabi Yusuf muda sangat berbeda dengan negeri asalnya, Palestina. Penyembahan dewa-dewa (Yusuf: 40). Nepotisme yang menjadi ruh politik dan hukum, hingga elit politik seenaknya menghukum tanpa pengadilan (Yusuf: 32, 36). Moral masyarakat yang jungkir-balik tak beraturan; hingga seorang isteri tanpa rasa malu merayu bahkan memaksa budaknya (Yusuf: 23); seorang suami tak lagi punya cemburu (Yusuf: 29), bahkan membuka kesempatan lebar-lebar isterinya untuk beraffair dengan membiarkan mereka tetap seatap; isteri-isteri kalangan elit yang bersatu padu dalam makar mesum (Yusuf: 33, 50). Bila elit politik demikian, kalangan jelata pun takkan jauh berbeda.

Lewat mimpi, Allah SWT memberitakan datangnya bencana. Paceklik akan melanda negeri subur ini selama 7 tahun. Raja cepat bertindak. Entah karena tanggung jawab, atau karena prestise super powernya terancam ambruk. Yusuf as. pun datang sebagai tokoh reformasi dengan solusi yang tepat, pada timing yang tepat. Beliau mengusung perbaikan pada sektor pertanian dan teknologi pasca panen (Yusuf: 47), manajemen keuangan negara (Yusuf: 55), dan politik ekonomi luar negeri (Yusuf: 49). Semua dilakukan dalam rangka dakwah menuju negara yang bertauhid. Karena tak mungkin beliau menyiakan peluang emas ini, sedangkan di dalam penjara saja beliau aktif berdakwah (Yusuf: 37-40).

Ternyata raja masih mau berlogika; menyambut usulan-usulan itu (Yusuf: 54). Tapi menurut Yusuf as., solusi baru manjur setelah dijalankan reformasi. Terutama dalam bidang norma dan hukum. Yusuf as., yang korban nepotisme hukum, tak mau keluar penjara sebelum namanya direhabilitasi (Yusuf: 50). Diadakanlah pengadilan yang melibatkan semua pihak terkait tanpa kecuali (Yusuf: 51). Perlakuan hukum yang tidak membedakan golongan dan strata sosial ini nantinya akan membuka kunci reformasi di bidang yang lain. Keberhakan atas jabatan pun hanya didasarkan pada kapabelitas pejabat (Yusuf: 55, 56), sehingga terwujud keadilan dan profesionalisme.

Beruntunglah negeri ini; selamat dari ancaman bencana, bahkan menjadi negara donor dan pensuplai pangan masyarakat dunia. Walau kondisi keagamaan belum tereformasi dengan sempurna (Yusuf: 76), dan raja masih belum bertauhid. Ternyata bencana bisa disulap menjadi kenikmatan. Syaratnya, ada reformasi pada sektor-sektor vital. Minimal dalam membebaskan negara dari gurita KKN. Kondisi negara yang hormat reformasi sangat kondusif untuk perbaikan keagamaan umat.

Sekarang, coba kita bandingkan dengan kebijakan politik lain. Masih di Mesir kuno. Pada dinasti ke-19, Ramses II, yang ditengarai sejarawan adalah Fir’aun penentang nabi Musa as. pada abad ke-13 SM ini, memakai politik otoriter. Demi mencerabut ideologi lawan dan melanggengkan status quo, dia dengan tega mengusir dan membunuh, bahkan kepada bayi-bayi merah yang masih dalam buaian.

Penggemar berat sihir ini punya hukum sendiri yang dipaksakan kepada rakyat. Diapun mengklaim diri sebagai tuhan (An-Nazi’at: 24). Bukan tuhan yang dipuja dan disembah. Karena dalam sejarah, orang Mesir tidak pernah menyembah raja (Fi Dzilal Al-Qur’an: 1353). Juga karena ternyata Ramses II pun menyembah para dewa (Al-A’raf: 127). Karena menaati aturan raja yang berseberangan dengan Islam adalah sebuah penyembahan (lihat kisah Adiy bin Hatim, riwayat Tirmizi).

Suatu saat, kesombongannya terusik. Mesir dilanda kemarau panjang yang melaparkan seluruh negeri (Al-A’raf: 130). Namun penguasa Nil ini masih saja menyombongkan kekuasaannya. Kadang bencana yang tak tertanggulangi itu memaksanya turun bargaining, dan harus berdialog dengan Musa as. untuk mencari solusi (Al-A’raf: 134).

Dalam setiap dialog, Fir’aun berkomitmen untuk beriman kepada Allah dan tidak berbuat kezaliman. Setelah bencana dihentikan, dia pun ingkar janji. Akhirnya dikirimlah bencana secara beruntun. Datanglah taufan, belalang, kutu, katak, dan darah (Al-A’raf: 133). Fir’aun tak berubah; kezaliman terus saja terjadi. Bahkan nabi Musa as. yang selama ini turut meringankan bencana pun dikejar-kejar, hingga akhirnya Fir’aun dan tentaranya dibinasakan di laut Merah (Yunus: 90). Yang tersisa hanyalah mumi tubuhnya yang sarat pelajaran berharga (Yunus: 92).

Itulah dua sikap dengan dua konsekwensi. Bahwa bencana harus diyakini akibat sebuah kesalahan. Logikanya, kalau Islam menganjurkan istighfar saat tertusuk duri, apakah sebuah negeri hancur bukan karena dosa? Dalam hal ini, introspeksi pun harus berskala nasional. Yang paling bertanggung jawab adalah para pembuat keputusan. Mereka harus mengaktifkan hati agar pesan bencana dapat diterima; membuka telinga agar suara pelopor kebaikan bisa didengar. Kemudian bagi para pecinta keadilan dan kesejahteraan agar lebih concern terhadap kondisi umat; jadilah Yusuf dan Musa negeri ini. Jangan sampai negeri kita hilang digilas sejarah. Karena sejarah pasti akan mengulang kembali peristiwa-peristiwanya. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)

Kisah Hakim Adil yang Memenangkan Nasrani melawan Khalifah Harun Ar Rasyid

Minggu, 01 Desember 2013






Oleh Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo


Imam Abu Yusuf adalah salah seorang murid dan pewaris mazhab Abu Hanifah. Dan beliau adalah qadhil qudhah (hakim agung) di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid.

Beliau pernah mengadili antara Khalifah Harun Ar Rasyid dan seorang yang beragama Nashrani dalam satu sengketa yang terjadi di antara mereka berdua.

Dalam perkara itu Abu Yusuf memenangkan orang Nashrani, dan Harun pada pihak yang kalah. Karena memang terbukti kebenaran berpihak kepada orang Nashrani.

Ketika Abu Yusuf sudah hampir meninggal, beliau bermunajat:

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa aku sudah menduduki jabatan ini. Aku tidak pernah cenderung kepada salah seorang dari dua orang yang bersengketa walaupun di dalam hatiku.

Kecuali ketika seorang Nashrani bersengketa dengan Harun Ar Rasyid. Aku tidak menyamakan di antara mereka berdua dalam perasaan. Karena aku berharap di dalam hatiku supaya kebenaran berada di pihak Ar Rasyid, sekalipun akhirnya aku menangkan orang Nashrani itu, karena memang dia dalam posisi benar".

Kemudian beliau menangis.

Lihatlah kisah ini dengan penuh pentadabburan, bermacam pelajaran kita dapatkan. Di antaranya:

1. Betapa cemasnya Abu Yusuf atas tindakan tidak adil yang beliau lakukan, sekalipun hanya di dalam perasaan, dan tidak mempengaruhi kepada keputusan.

Barangkali bagi kita perkara biasa bila beliau lebih cenderung kepada Ar Rasyid yang muslim dari pada lawannya yang beragama Nashrani. Tapi tidak demikian dengan timbangan keadialan yang dipahami oleh Abu Yusuf.

Bila ukuran hakim adil itu seperti Abu Yusuf, bagaimana kira-kira dengan hakim-hakim yang ada sekarang ini?

Bagi yang berprofesi sebagai hakim atau bercita-cita menjadi hakim, sangat perlu menempelkan kisah Abu Yusuf ini di keningnya. Supaya jadi rem dan rambu-rambu ketika dia mengadili antara orang yang berkesumat.

2. Alangkah halusnya barometer dosa bagi seorang ulama sekaligus hakim seperti Abu Yusuf. Hanya bisikan di dalam hati yang tidak berdampak kepada perbuatan dianggap sebuah dosa yang akan memberatkan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Alangkah bening dan bersihnya hati beliau.

Kita hari ini amat butuh kepada hakim-hakim adil seperti beliau yang mulia ini. Demi tegaknya keadialan dan kebenaran di permukaan bumi.

Semoga rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan setiap hakim adil serta kita semua.

BEGINILAH JALAN DAKWAH MENGAJARKAN KAMI

Sabtu, 11 Mei 2013



Islamedia - Beginilah jalan dakwah mengajarkan Kami
Untuk tidak mudah patah dalam setiap kegagalan
dan tidak begitu saja menyerah pada keadaan
Karna dakwah tidak pernah melahirkan seorang pecundang
Hanya ada dua jalan yang sama-sama menang
'isy kariiman aumut syahiidan..

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami
Untuk tetap setia dan loyal pada setiap amanah yang dititipkan
Keluh dan kesah bukanlah aral untuk mencium aroma perjuangan
Karena azzam telah mengikat diri pada kesucian niatan
Untuk bertakbir penuh kemenangan pada saatnya datang

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami
Untuk tidak mudah membagi Cinta selain untuk Tuhan
Meski racun dunia telah menebar kesesatan
Dan terus mencoba mengunci hati dari kebenaran


=================================================

Saudaraku, adakalanya kita merasa lelah dan ingin berhenti.
Adakalanya pula kita merasa jenuh dan merasa tak berguna lagi.
Namun, apalah yg dakwah minta dari kita?
Tidak ada!
Karena sampai kapanpun dakwah tidak pernah membutuhkan kita.
Dakwah tidak pernah merindukan kita manakala kita memutuskan untuk rehat terlalu lama.
Dakwah pun masih akan terus berjalan tanpa kesertaan kita dalam barisannya.

Namun... apa jadinya kita tanpa dakwah?
Layaknya seonggok daging hidup yang kehilangan orientasi nyata bukan?
Jika tidak ridho-Nya, apa lantas yg kita targetkan? Hartakah.. Kekuasaankah.. atau wanita?
Jika kini kau sedang bersemangat untuk terus berada di dalam barisannya, lihatlah sekelilingmu.
Mungkin saja sedang ada seorang partnermu yg hampir jatuh dan tersingkir dari barisan mulia ini.
Ulurkanlah tanganmu dan tariklah ia untuk masuk kembali dalam shaf di belakangmu.

Namun, jika kau kini justru hampir terjatuh dan keluar track, maka ulurkanlah pula tanganmu untuk menggapai saudaramu yang masih berbaris rapi dalam shaf indah itu.

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami..
Untuk saling menjaga dari ketertinggalan dalam shaf mulia ini.

Allahu'alam bishowab.

(islamedia.com)

Sepenggal Firdaus itu Bermula dari Rumah Kita

Minggu, 05 Mei 2013








"Renungan Keluarga dari Negeri Surga"

Kita berharap merealisasikan Indonesia sebagai Sepenggal Firdaus bagi Dunia...
Sudahkah kita berupaya menjadikan Rumah kita sebagai Surga Dunia?

Seorang Istri yang shalihah akan menjadikan Rumah tentram dan menyenangkan...
Seorang Suami yang shalih akan menjadikan Rumah aman dan nyaman...
Anak-anak yang shalih-shalihah akan menjadi permata penghias nan menyejukkan...

Bagaimana dengan Rumah Kita?
Bagaimana dengan Suami Kita?
Bagaimana dengan Istri Kita?
Bagaimana dengan Anak-anak kita?

Sudahkah kita hadirkan Surga yang menentramkan di "Rumah" kita?
Ataukah kita lebih nyaman menghiasinya dengan gemerincing harta tanpa makna?

Jadikan momentum pagi ini...
...sebagai tonggak baru menghidupkan rumah kita...
...sebagai tonggak baru menyinari rumah kita...

Saling hidupkan Tarbiyah Dzatiyah dan Ruhiyah dalam Usrah Muslimah...
Saling menjaga tilawah dan mengingatkan untuk Shalat berjama'ah...
Saling menguatkan hafalan dan membiasakan shadaqah...
Saling mendukung aktifitas dakwah dan menghidupkan nuansa harakiyyah...

Kita berharap merealisasikan Indonesia sebagai Sepenggal Firdaus bagi Dunia...
Sadarlah bahwa semua berawal dari Rumah setiap kader dakwah yang ada...
Sudahkah Rumah kita menjadi syurga bagi jiwa-jiwa fana?

Semoga Allah Azza wa Jalla memberkahi ikhtiar kita...
Menjadikan Indonesia sepenggal Firdaus bagi masyarakat dunia...
Diawali dengan menjadikan Rumah kita sebagai Surga bagi penghuninya...
Rumah yang berfungsi sebagai Busur Panah yang kokoh dan perkasa...
Ladang Penyemaian yang kelak menghasilkan anak-anak panah peradaban...
Anak panah yang berjiwa ksatria...
Penghulu Gerak dan Kerja Dakwah...
Yang siap dilepaskan mengoyak sendi-sendi kemungkaran dunia...

Rumah kita...Keluarga kita...Inspirasi Keluarga Penghulu Surga...

Wallahua'lam
Barakallahu fiik...

24 Jumadil Akhir 1434 H

Noorahmat Abu Mubarak (@noorahmat)
Fitry Ratnasari UmmuZa (@ummuza)











Madrasah Pertamaku adalah “Ibu”

Rabu, 24 April 2013




Ilustrasi. (inet)


dakwatuna.com - Berbicara tentang peran ibu kembali mengingatkanku ketika awal di mana aku harus tinggal jauh dari kedua orang tuaku. Ketika itu usiaku menginjak umur 12 tahun dan baru akan memulai hidup baru yang tentunya berbeda dengan kehidupan sebelumnya yaitu masuk pondok pesantren Husnul Khotimah di Kuningan. Cukup jauh dirasa ketika itu karena harus menempuh waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Ketika itu, pada masa POS-HK (MOS), ada momen yang sengaja dibuat oleh panitia agar semua santri baru mengingat ibunya, perjuangannya, pengorbanannya, dan hal lainnya yang membuat semua santri mencucurkan air mata. Adalah melalui sebuah lagu yang kami nyanyikan bersama dengan penuh pemaknaan disertai kerinduan yang amat sangat dirasakan oleh kami pada sosok ibu.

Pada bagian lirik lagu itu dikatakan bahwa “sedari kecil hingga dewasa, ibu menjaga, membelai penuh manja”. Sebuah gambaran yang menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu pada anaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika dalam kandungan, sembilan bulan lamanya seorang anak diasuh, dirawat dengan penuh perhatian dan kehati-hatian. Ketika sedang mengandung seorang ibu senantiasa menjaga sikap, emosi, makanan, kesehatan dan hal lainnya. Semua itu dilakukan karena seorang ibu tidak ingin anak yang sedang dikandungnya mendapat dampak buruk dari kecerobohan yang dilakukan.

Dalam bersikap seorang ibu yang sedang hamil terlihat lebih santun dan sabar, hal itu dikarenakan sang ibu pun sadar bahwa sejak dalam kandungan dia sudah mulai mendidik anaknya. Di saat sang ibu marah, anak yang dalam kandungan pun akan merespon marah tersebut dan berdampak tak baik bagi perkembangan otak anak. Demikian juga saat sang ibu membaca Al-Quran, maka anak dalam kandungan pun meresponnya dengan baik dan membentuk sifat yang baik pula. Kalangan ahli kedokteran dan ilmu jiwa menyarankan agar mendidik anak diawali dari saat dalam kandungan. Maka tidaklah salah jika seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya.

Menjadi sosok mulia penuh cinta, seorang ibu menjadi tumpuan utama dalam mencetak generasi tangguh, cerdas dan berakhlak mulia yang akan memunculkan sebuah harapan untuk memimpin umat ini di masa yang akan datang. Sebagai madrasah yang tentunya akan banyak ilmu yang disampaikan dan diajarkan, seorang ibu haruslah memiliki wawasan keilmuan yang luas. Di sanalah seorang anak pertama kali belajar bersikap, belajar mengenal Tuhannya, belajar mengenal apa yang ada di sekitarnya, semuanya berawal di madrasah itu. Ibu sebagai lembaga pendidikan tentunya harus dipersiapkan dengan baik. Seperti kutipan dari perkataan Ahmad Syauqi bahwa,“Seorang wanita (ibu) adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar digdaya”. Maka wajiblah jika seperti itu kepada seluruh wanita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Tanpa ilmu dan pemahaman yang benar mungkin generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia tidak akan pernah terwujud selama-lamanya.

Namun saat ditengok pada realita yang ada, masih banyak para wanita yang tidak menganggap penting sebuah pendidikan bagi dirinya. Mereka berpendapat, ”buat apa sekolah tinggi-tinggi toh kalo nantinya cuma jadi ibu rumah tangga?” atau ada juga mereka yang bersemangat mengejar gelar pendidikan setinggi-tingginya namun dengan tujuan hanya untuk kepentingan karirnya saja. Sehingga ketika punya anak dia dengan sangat mudah mengalihkan fungsi ibu yang seharusnya diperankan olehnya kepada pembantu yang biasanya tidak begitu diperhatikan latar belakang pendidikannya, oleh karena itu waktu untuk anak pun sangatlah terbatas bahkan mungkin tidak ada. Tidak aneh jadinya ketika melihat seorang anak yang sangat sulit untuk diarahkan atau bahkan terjerumus dalam pergaulan bebas yang menghancurkan masa depannya. Hal itu menjadi salah satu akibat kurangnya kasih sayang yang diberikan kedua orangtua khususnya dari seorang ibu.

Hmm… sungguh disayangkan sekali realita yang terjadi saat ini, ketidakpahaman yang berujung pada kesalahpahaman dalam memandang pendidikan berimbas pada nasib generasi masa depan.

Ketahuilah wahai para wanita, sungguh derajat muliamu sudah ditinggikan posisinya oleh Allah SWT, seperti dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Dari Abu Hurairah berkata: “Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya? Rasulullah menjawab: Ibumu, Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu, dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah kembali menjawab: Ibumu, lalu dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Bapakmu.”(HR. Bukhari: 5971, Muslim: 2548). Mulianya engkau hingga diulang tiga kali Nabi Muhammad SAW menyebutmu sebelum akhirnya ayah setelah itu.

Saudariku yang insya Allah di kemudian hari kan menjadi seorang ibu, menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan rendahan bahkan hina. Sungguh itulah pekerjaan muliamu yang membuka peluang bagimu mendulang pahala sebagai tabungan akhiratmu. Dengannya engkau dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia bagi bangsa juga agama. Ilmu yang engkau dapatkan dari pendidikan formal sampai tingkat tertinggi pun tak akan menjadi sebuah kesia-sian karena dengannya engkau dapat berbagi dengan anakmu kelak sehingga dia menjadi sosok unggul di masa depannya. Mulia dan sangatlah berarti peran seorang ibu.

Untuk mengakhiri, ingin kusampaikan bahwa tanpamu (ibu) mungkin tak bisa ku menulis sepanjang ini, tak bisa ku mengenal Allah SWT sebagai Tuhanku seperti sekarang ini. Engkaulah yang pertama kali mengenalkan semua itu padaku, kau ajarkan dengan kesabaranmu. Ibu, sungguh kau lah madrasah pertama bagiku.

Sedikit ku selipkan lagu indah pada penutup tulisan ini tentang sosok ibu untuk mengingat akan jasa-jasanya dan sebagai penawar rasa rindu padanya.


Kasihnya Ibu
Kasihnya ibu tulus sejati
Seperti rasul. taatnya pada ilahi
Ikhlas suci kekal abadi
Kasihnya tak dapat ditukar ganti

Sedari kecil, hingga dewasa
Ibu menjaga, membelai penuh manja
Sabar tanpa penat dan lelah
Karena kewajiban dan amanah

Kini engkau telah dewasa
Hati ibu mesti dijaga
Jangan jadi anak durhaka
Kasihnya ibu membawa ke surga.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/12/31148/madrasah-pertamaku-ibu/#ixzz2RL40VJRy

AL-KHANSA BINTI AMRU | lbu Para Mujahid

Sabtu, 20 April 2013




Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda.” Rasuluilah SAW bersabda, ‘Siapakah mereka itu. Sebutkaniah namanya.’ Adi menjawab, ‘Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.’ Rasuluilah SAW menukas, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.’ Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, ‘Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.’ Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, ‘Mengapa matamu bengkak-bengkak?’ Khansa menjawab, ‘Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu.” Umar berkata, ‘Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.’ Sahut Khansa, ‘Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.’ Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melialui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata, ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.Jika kalian telah melihat perang, singsingkaniah lengan baju dan berangkatiah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akherat. Negeri keabadian. Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.’ Pemuda-pemuda itupun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang matl-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, ‘Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.’ Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah. (Wanita-wanita Sahabiyah)

Dari : www.sahabatnabi.0catch.com

Tidak Ada Amal Remeh | Mujahadah Dalam Segala Hal

Jumat, 15 Maret 2013







 
Ustadz A. Mudzoffar Jufri



Jangan pernah meremehkan amal apapun, yang baik maupun juga yang buruk. Karena sekecil dan seremeh apapun suatu amal baik, pada momen yang tepat, bisa menjadi amal super istimewa bagi pelakunya. Begitu pula sekecil dan seremeh apapun sebuah amal buruk, karena faktor tertentu, bisa berakibat demikian fatal bagi pemerannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Janganlah pernah sekali-kali meremehkan kebaikan sekecil apapun” (HR. Muslim).

Di dalam hadits lain, Beliau juga bersabda (yang artinya): “Pelihara dan jauhkanlah diri kalian dari api neraka, meskipun hanya melalui (sedekah) dengan separoh biji korma” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW. pernah berkisah tentang seorang pelacur yang merasa kasihan melihat seekor anjing yang terengah-engah, bahkan hampir mati, akibat kehausan. Lalu ia turun ke dalam sumur demi mengambil air dengan sepatunya, untuk diminumkan kepada anjing tersebut. Allah-pun membalasnya dengan ampunan atas dosa-dosanya (lih. HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ada lagi seorang laki-laki yang dimasukkan ke Surga, karena amal “istimewa” yang dibuatnya. Yakni berupa menyingkirkan sebatang dahan pohon yang semula mengganggu dan merintangi perjalanan orang banyak (lih. HR. Muslim).

Sementara itu ada seorang perempuan yang disiksa di neraka, gara-gara menahan seekor kucing tanpa makan dan minum, sampai mati (lih. HR. Al-Bukhari dan Muslim).

*http://ustadzmudzoffar.wordpress.com/2012/04/08/tidak-ada-amal-remeh

Belajar Taqwa Kepada Kisah Nabi Nuh

Selasa, 12 Maret 2013



Ilustrasi - google.com



Agar misi dakwah ilallah berjalan dengan lancar dan kontinu, Allah swt. membekali para nabi dan rasul dengan salah satu sifat asasi, yaitu sabar. Sabar dalam terus mengajak kebaikan, sabar dalam menghadapi hinaan, tegar dalam menghadapi penentangan, sebagaimana mereka juga dibekali dengan sifat bijaksana dan santun. Dengan demikian, tidak ada lagi hujjahatau udzur bagi orang kafir dengan menyalahkan Allah swt. Di yaumil akhir kelak setelah datangnya para nabi dan rasul di tengah-tengah mereka.



Membuktikan Kesabaran

Adalah Nabi Nuh alaihissalam, salah satu dari rasul yang memiliki sebutan ulul azmi, yang memiliki ketegaran. Ia mendakwahi kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Subhanallah, waktu yang tidak sebentar. Ia sabar menghadapi celaan kaumnya, ia tegar menghadapi penentangan mereka. Sisi lain, ia sangat menghendaki kebaikan dan keimanan kaumnya. Akan tetapi mereka bukannya menerima seruan dakwah Nabi Nuh,justru kian hari mereka kian menolak dan menentang.



Perihal penolakan kaumnya, Nabi Nuh alaihissalam mengadu kepada Allah swt. Ia merasa tidak ada peluang kebaikan dan keimanan lagi dari kaumnya. Akhirnya Allah swt. memberitahu Nuh bahwa kaumnya tidak akan ada yang mau beriman lagi. “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (Huud: 36)



Ketika mengetahui bahwa Allah swt. telah memutuskan kalimat-Nya bahwa tidak akan ada yang beriman seorang pun dari mereka setelah ini, Allah telah menutup kalbu mereka dan menguncinya dengan gembok yang kuat, Nabi Nuh alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh: 26-27)



Allah swt. mengabulkan pengaduan Nabi Nuh dan memerintahkannya untuk bersiap-siap mengadakan penyelamatan bila tiba saatnya.“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (Huud: 37)



Melaksanakan Perintah Tanpa Ragu

Nabi Nuh menjauh dari pusat kota untuk membuat bahtera. Ia mulai bekerja. Sampai di sini, ia pun tidak luput dari celaan dan hinaan kaumnya. Sebagian mereka mengatakan, “Wahai Nuh, kamu sebelum ini mengaku sebagai Nabi dan Rasul, bagaimana sekarang kamu menjadi tukang kayu? Apakah kamu melepaskan kenabian? Ataukah kamu lebih suka menjadi tukang kayu?” Sebagian yang lain mengatakan, “Kamu membuat bahtera di tempat yang jauh dari sungai dan laut? Apakah kamu mengharapkan banjir akan menjalankan bahteramu? Atau kamu paksa angin akan membawanya terbang?”



Nabi Nuh tidak menggubris hinaan dan celaan mereka. Ia dengan santun melalui omong kosong mereka, sambil berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (Huud: 38-39)



Nabi Nuh berkonsentrasi membuat bahtera. Ia menyusun kayu-kayu, mengguatkan susunan-susunannya, sampai akhirnya jadilah bahtera besar dan kokoh. Nabi Nuh menunggu keputusan Allah swt. sampai akhirnya Allah swt mewahyukan kepadanya: “Jika sudah datang keputusan Kami, telah tampak tanda-tanda ayat-ayat Kami, maka berlindunglah kamu di dalam bahtera, dan bawalah orang yang beriman dari keluarga dan kaummu, dan bawalah setiap hewan dan tanaman masing-masing sepasang.” Tibalah putusan Allah swt., yaitu ketika pintu-pintu langit terbuka dengan mengguyurkan hujan yang sangat deras, sedangkan bumi memancarkan sumber air yang sangat kencang, hingga menyebabkan air bah meluap, meninggi dan terus meninggi. Nabi Nuh bergegas menuju bahteranya dengan melaksanakan segala perintah Tuhannya, yaitu membawa manusia, hewan, dan tanaman berpasangan.



Tawakkal kepada Allah

Bahtera melaju dengan nama Allah swt., Dzat yang menjalankan dan melepasnya. Kadang bahtera melaju dengan tenang, kadang melaju dengan goncangan hebat. Tsunami menggulung setiap yang diterjangnya. Ombak menggunung mengubur orang orang kafir. Busa air bah bak kain kafan yang menyelimuti mereka. Mereka berjuang menyelamatkan diri dari maut, padahal maut mengejar dan mengalahkan mereka. Mereka melawan ombak, justru ombak menggilas mereka. Nabi Nuh dan kaumnya tenang di atas bahtera, sampai akhirnya ia melihat putranya, Kan’an –penentang Allah, membenci dan menjauh dari ayahnya– berusaha menyelamatkan diri dari gulungan ombak yang dahsyat. Ia terlihat berusaha memegang tali agar selamat, atau menuju bukit agar terhindar dari tsunami. Akan tetapi maut mengincar dirinya.

Melihat kejadian itu, Nabi Nuh sebagai seorang ayah merasa kasihan. Cinta dan kasih sayang seorang ayah bergolak. Nabi Nuh memanggil putranya dengan harapan panggilan itu sampai pada kalbu, sehingga ia mau beriman. Atau sampai pada perasaan yang paling dalam sehingga ia mau mendengar seruan ayahnya. “Wahai putraku, mau ke mana kamu? Kamu lari dari takdir Allah dan keputusan-Nya menuju takdir dan keputusan-Nya yang lain. Kemari beriman, wahai putraku, kamu akan bersatu lagi dengan keluargamu, dan kamu akan selamat dari tsunami ini.”



”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang orang yang kafir.” (Huud: 42)

Seruan sang ayah rupanya tidak sampai pada lubuk hatinya, tidak sampai ke relung kalbunya. Ia menyangka mampu menghindar dari keputusan Allah swt., ia mengira bisa selamat dari takdir-Nya. Kan’an menjawab, ”Menjauhlah kamu dari saya, karena saya akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini!”



Nabi Nuh menyeru dengan penuh kegalauan dan kekhawatiran, ”Wahai putraku, tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 43)



Melihat putranya tenggelam di depan mata kepalanya, Nabi Nuh berujar dengan penuh kesedihan dan duka cita: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadiladilnya.” (Huud: 45)



Allah swt. menegur Nabi Nuh, “Wahai Nuh, ia bukan dari anggota keluargamu, ia juga bukan dari keluarga besarmu. Ia telah menentang, ia telah nyata-nyata kufur, maka jangan kamu anggap ia sebagai keluargamu, kecuali orang yang telah beriman kepadamu, mempercayai risalahmu, mengikuti dakwahmu. Itulah keluargamu yang Aku janjikan akan selamat dan mendapatkan kemenangan. ”Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Rum: 47)



Adapun orang-orang yang menentang risalahmu, mendustakan kalimat Tuhanmu, ia keluar dari anggota keluargamu, jauh dari syafa’atmu, meskipun kalian ada hubungan darah atau nasab. Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Huud: 46)



Mengakui Kesalahan dan Segera Bertaubat

Seketika itu Nabi Nuh paham bahwa perasaannya telah menjerumuskan kepada kesalahan. Dorongan cinta telah menutupinya dari kebenaran. Ia lebih pantas menengadahkan tangan bersyukur kepada Allah swt. yang telah menyelamatkan dirinya dan orang-orang beriman dari tsunami, dan atas ditimpakannya kehancuran dan ditenggelamkannya orang-orang kafir. Nabi Nuh kembali kepada Allah swt., memohon ampun atas kesalahan dirinya seraya berlindung akan murka-Nya. Ia berkata: ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak member ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Huud: 47)



Ketika tsunami telah sampai puncaknya, dan orang-orang dzalim telah tergilas olehnya, langit tidak lagi menurunkan hujan, bumi tidak lagi memancarkan sumber air, dan bahtera pun selamat menepi di Bukit Judi. Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia. “Dan difirmankan: Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(Huud: 44). Dikatakan kepada Nabi Nuh: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud: 48)


Sebagian nilai-nilai dari kisah di atas

Pertama, bekal asasi penyeru dakwah ilallah swt. adalah sabar; sabar dalam terus mengajak kebaikan, dan sabar atas penolakan objek dakwah. ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 33-35)



Kedua, tidak lari dari medan dakwah, sehebat apapun penentangan yang dihadapi. Nabi Nuh tidaklah memohon agar kaumnya dihancurkan, kecuali setelah Allah swt memberitahunya, bahwa tidak ada yang akan beriman lagi di antara mereka. Ketiga,melaksanakan perintah, tanpa komentar dan meninggalkan larangan tanpa kompromi. Rasulullah saw bersabda, ”Tinggalkanlah apa yang aku larang, karena penyebab kaum sebelum kalian hancur adalah karena mereka selalu mendebat dan menyalahi para nabi mereka. Jika aku larang sesuatu bagimu, maka jauhilah. Dan jika aku perintahkan untukmu, maka kerjakanlah sesuai dengan kesanggupanmu.” (HR. Bukhari, Kitab Shahih Bukhari, Jilid 22, Hal. 255).


Keempat, bahwa tugas seorang muslim adalah berdakwah, adapun hidayah adalah hak prerogatif Allah swt saja. Sekalipun itu anak kita sendiri, kalau Allah swt tidak menentukan mendapat hidayah, maka ia tidak akan beriman. Sebagaimana kisah paman Nabi Muhammad saw., Abu Thalib yang meninggal dalam keadaan kafir.



Kelima, segera minta ampun dan beristighfar ketika melakukan kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu dan mengiringinya dengan mengerjakan kebaikan. Rasulullah saw bersabda, ”Dan iringilah kesalahan dengan perbuatan kebaikan, agar kebaikan itu menghapusnya.” (Hadits Shahih berdasarkan syarat Bukhari-Muslim, Kitab Mustadrak Imam Hakim, Jilid I, Hal. 174)

Oleh: Ulis Tofa, Lc

sumber : http://www.infopks.com/dakwah/2013/03/01/bahtera-nabi-nuh

Merawat Buah-buah Pengorbanan

Jumat, 08 Maret 2013




Oleh: Muhammad Nuh*

Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan. Semakin bagus umpan yang diberikan, kian cepat dan besar ikan yang didapat. Sayangnya, tak semua pemancing sadar kalau mengail ikan butuh keyakinan dan kesabaran.

Tak pernah kering hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. Dua hamba Allah yang telah membuktikan kesalehan dan kesabarannya dalam taat pada Allah swt. Seorang ayah yang diuji cintanya, dan seorang anak yang dites taatnya pada Allah dan orang tua.

Tak pernah terpikir oleh Ibrahim kalau kecintaannya dengan Ismail harus berbenturan dengan sebuah mimpi. Mimpi yang memintanya untuk menyembelih putera yang telah ia nanti hingga lebih dari delapan puluh tahun. Mimpi yang menyuruhnya melakukan perbuatan yang di luar batas kewajaran. Terlebih buat orang yang sangat ia cintai. Berat. Sangat berat.

Masih terbayang oleh Ibrahim bagaimana beratnya kehidupan Ismail dan ibunya ketika ia tinggalkan cuma berdua di sebuah negeri asing yang tandus. Kawasan padang pasir yang bukan sekadar tak berpenghuni, tapi juga tak berair dan berpohonan. Bagaimana mungkin mereka bisa hidup. Kalau bukan karena ketaatan dan tawakalnya pada Allah swt., tentu Ibrahim tak akan tega meninggalkan mereka menuju Palestina.

Namun, Ibrahim yakin kalau itu bukan sekadar mimpi. Bukan sekadar bunga-bunga tidur yang tidak punya arti. Ia yakin kalau itu perintah Allah yang harus ditaati. Walaupun tak mampu dicerna oleh nalar yang wajar. Dengan sangat bijaksana, Ibrahim mengungkapkan kegundahan itu kepada Ismail, “Wahai anakku. Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (Ash-Shaffat: 102)

Ternyata, jawaban Ismail begitu mengharukan. “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak dan menyusahkan ayah. Kedua, agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya. Ketiga, tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku. Dan yang terakhir, sampaikanlah salamku kepada ibuku, berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”

Mendengar itu, Ibrahim langsung memeluk Ismail, dan menciumnya dengan penuh cinta. Ia mengatakan, “Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Itulah kisah yang menyimpan seribu satu hikmah. Allah swt. mengabadikan kisah teladan itu dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (dengan sempurna). Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

Di antara hikmah itu adalah mencintai sesuatu butuh pengorbanan. Semakin tinggi dan agung sebuah ungkapan cinta, kian besar tuntutan nilai pengorbanannya. Adakah ungkapan cinta yang lebih tinggi selain cinta kepada Yang Maha Pencinta, Allah swt. Dan hal itulah yang ingin ditunjukkan Nabi Ibrahim a.s. Ia harus berkorban. Dengan apa pun, walaupun harus dengan nyawa orang yang paling ia cintai.

Kedua, kadang kedekatan seorang hamba Allah dengan Rabbnya bisa terhalang dengan kedekatan-kedekatan yang lain. Bisa harta, jabatan, isteri atau suami, anak dan cucu. Ada tarik-menarik antara kedekatan-kedekatan itu. Dan setan kerap memainkan kedekatan yang lain itu untuk menggoyahkan komitmen seorang mukmin.

Betapa tidak sedikit seseorang yang akhirnya menjauh dari Allah lantaran orang yang ia cintai pergi untuk selamanya. Ia lupa kalau siapa pun yang tiba-tiba dekat dalam hatinya cuma berlangsung sementara. Ia akan berpisah. Bisa ia yang ditinggalkan, atau ia yang akan meninggalkan. Tak ada yang abadi dalam dunia.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Alangkah indahnya keteladanan yang pernah diperlihatkan Ibrahim a.s. Ia terbukti mampu menempatkan kecintaan pada Allah di atas kecintaan yang lain. Ia pun sukses mengikat cinta-cinta hati orang-orang dekatnya untuk bersama-sama mencintai Allah swt.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “Dan Kami panggilkan dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (Ash-Shaffat: 104-109)


*sumber: dakwatuna.com

Terapi Rasulullah saw Mengatasi Fitnah (Pelajaran dari Haditsul Ifki)

Selasa, 26 Februari 2013


PKS CANDI - Madinah gempar. Fitnah keji terhadap keluarga Nabi saw merebak. Aisyah, istri Nabi saw dituduh berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal. Tuduhan itu seolah menemukan fakta: keduanya ditemukan berjalan berduaan sepulang dari perang Bani Musthaliq!

Lalu, apa yang dilakukan Nabi saw mengatasi fitnah ini? Lembaran sejarah mengajarkan kepada kita, bagaimana beliau memberantas fenomena ini sampai akarnya. Sebuah sikap yang sangat perlu diteladani oleh qiyadah dalam memberikan terapi atas peristiwa semacam ini.

Pertama, melakukan konfirmasi dan klarifikasi. Ini yang kita saksikan melalui beberapa pertanyaan yang diajukan Rasulullah saw, kepada  Zaid sebelum memutuskan kebenaran laporannya. Nabi saw sendiri melakukan hal itu. Qiyadah mana pun seharusnya melakukan klarifikasi sebelum mengeluarkan keputusan.

Jamaah yang tidak menghargai anggotanya takkan mendapatkan manfaat darinya di kala mengalami cobaan. Saat ini setelah era Rasulullah saw, kepada kita tidak diturunkan wahyu yang dapat mengabsahkan kejadian atau mementahkannya. Untuk itu, ada data-data dimana Islam telah menetapkan syarat-syaratnya, di antaranya adanya kesaksian  dan keadilan atau data-data yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan modern, berupa alat perekam atau foto yang merekam data-data pendukung, yang dapat membantu keluasan dan kebenaran penyidik.

Kedua, dalam menanggulangi merebaknya fitnah ini, Rasulullah saw pergi di waktu yang tidak biasanya sebagaimana yang dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah, “Rasulullah saw pergi bersama beberapa orang shahabat pada siang itu hingga sore, dilanjutkan malam itu hingga pagi harinya, kemudian di hari berikutnya hingga mereka disengat matahari. Kemudian beliau berhenti di suatu tempat bersama para shahabat hingga mereka mengantuk dan tertidur. Rasulullah saw melakukan semua itu agar mereka dapat melupakan pembicaraan seputar kejadian sebelumnya.

Tahapan berikutnya adalah menyibukkan orang-orang dari membicarakan fitnah itu. Sebab, masyarakat yang tidak sibuk, biasanya tak ada yang mereka bicarakan selain fitnah dan gosip. Qiyadah yang bijak dapat mengisi waktu kosong para pemudanya dengan sesuatu yang produktif atau dengan latihan kecakapan yang sesuai bagi mereka atau jihad langsung melawan musuh dimana tenaga dan kekuatan mereka bisa manfaatkan, dan mengalihkan mereka dari kasak-kusuk dan berbagai pertanyaan. Atau menghindarkan mereka dari reaksi positif maupun negatif terhadap kebohongan semacam ini. Kalau hari ini, pergaulan umat Islam dipenuhi fitnah dan gosip, itu lantaran banyaknya pengangguran di kalangan kaum Muslimin. Kalau mereka sibuk, takkan terjadi fitnah, atau fitnah takkan menyebar pesat.

Ketiga, mengemukakan pendapat kepada orang-orang dekat. Beliau melakukan pembicaraan itu kepada anggota inti pasukan. Tidak kepada semua orang. Beliau melakukan terapi dengan penuh kebijakan. Jika hal ini dicerna secara baik oleh jamaah Islam, pasti ia dapat menghindari banyak fitnah. Hendaknya masalah ketakutan hanya tersebar di kalangan tertentu dan tidak kepada semua orang.

Berbeda dengan orang-orang munafik. Mereka biasa menyebarkan desas-desus dan menikmati rasa takut itu. Hal ini sebagaimana digambarkan Allah dengan firman-Nya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan  lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (QS an-Nisa’ (4) : 83).

Pelajaran bagi Kaum Muslimin

Bagi kaum Muslimin, peristiwa ini mengangkat derajat mereka. Kisah ini menjadi ujian berat dan menyakitkan bagi Rasulullah saw, Aisyah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Ruman sang ibu, dan Shafwan bin Muaththal yang disaksikan Rasulullah saw sebagai seorang yang baik dan Allah telah memberi rezeki kepadanya kesyahidan di jalan-Nya sesudah itu.

Seorang Mukmin tentu akan merasa sakit dengan sakitnya Rasulullah saw. Seorang mukmin tidak dapat menahan dirinya dari tangisan, mungkin tidak tahu apakah ia menangisi Rasulullah saw yang dirusak kehormatannya padahal beliau sebaik-baik makhluk, atau Aisyah, wanita yang paling dicintai Rasulullah saw, dan tidaklah Allah memberikan rasa cinta kepadanya terhadap Rasul-Nya kecuali karena kemuliaan dan kehormatannya.

Bagaimana tidak, ia sebaik-baik keluarga Quraisy, keluarga yang seluruhnya beriman; ayahnya, kakeknya, dan saudara-saudaranya. Allah SWT Maha Mengetahui mengatakan setelah orang-orang beiman terombang-ambing dalam musibah dari peristiwa ini selama hampir lima puluh hari,“…..janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu,…”(QS an-Nur: 11).

Sekalipun di dalamnya ada kesulitan besar dan rasa menyakitkan namun ada sisi pelajaran dan pendidikan bagi umat yang jauh lebih baik dari itu semua. Sedangkan orang-orang yang dicoba dengan peristiwa ini, pahalanya di sisi Allah SWT tidak akan dizalimi sekecil apapun, “Tidaklah seorang hamba dizalimi lalu ia bersabar atas kezaliman itu maka Allah pasti menambah kemuliaan baginya.”[1]

Betapa Aisyah terangkat kemuliaannya saat pembuktian dirinya bersih dari segala tuduhan berasal dari al-Qur’an yang selalu dibaca hingga hari kiamat. Padahal klimaks dari harapan Aisyah adalah bilamana Rasulullah saw mendapatkan mimpi tentang kebersihan dirinya. Maka, siapakah yang masih bisa menuduhnya setelah Allah membersihkannya? Kalaupun ada yang masih menuduh Aisyah, berarti ia telah  mengingkari firman Allah.

Alangkah celakanya kaum Syiah dengan keyakinannya yang batil terkait tuduhan mereka kepada Aisyah dan kepada Abu Bakar. Peristiwa ini adalah fitnah yang justru makin menampakkan kemunafikan orang-orang munafiq dan keyakinan orang-orang beriman.

Orang yang mendesain fitnah ini, Allah janjikan dengan siksaan pedih di akhirat. Sementara orang-orang beriman yang menganggap remeh dengan menyebarkan berita bohong ini dan menyangkanya sebagai hal yang biasa, Allah didik mereka dengan penegakan hukum hadd atas mereka. Sehingga mereka menjadi ibrah bagi orang-orang beriman lainnya.

Betapa sering kejadian buruk dan cobaan karena anggapan remeh terhadap dosa kecil. Di antara hasil dari peristiwa ini adalah munculnya fitnah antara kaum Aus dan Khazraj hingga mereka nyaris saling bunuh. Barangkali aturan tentang diharamkannya menuduh dan hukum hadd-nya serta diharamkannya menyebarkan berita yang belum pasti selain peristiwa ini, tidak akan mendapatkan sambutan besar seperti sambutan datangnya ayat-ayat setelah bencana besar ini. Maka, peristiwa ini bisa berarti pendidikan rabbani bagi umat. Dengan demikian, akan menambah keimanan orang-orang beriman dan menampakkan kemunafikan orang-orang munafiq.

Dari peritiwa ini juga dipetik penjelasan bagaimana Allah memberi jalan keluar dan kebahagiaan setelah masa sulit dan ujian. Hingga ketika permasalahan sudah sampai di puncaknya, Allah memberikan sesuatu yang dapat menenangkan jiwa mereka dari wahyu kepada Rasulullah saw sehingga turun laksana gerimis di saat kekeringan dan kepayahan.

Imam az-Zamakhzyari mengatakan, makna “itu baik bagi mereka” adalah karena mereka memperoleh pahala yang besar sebab sebelumnya mereka mendapat cobaan dan bencana yang besar. Bahwa ayat yang turun sebanyak 18 (delapan belas) yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, ini semua adalah penghormatan kepada Rasulullah saw dan sebagai hiburan bagi beliau, serta penyucian bagi Ummul Mukminin dan pembersihan bagi keluarganya, sekaligus sebagai peringatan bagi siapa saja yang membicarakannya atau mendengarnya. Serta peringatan kembali bagi semua yang mendengar dan membaca (ayat) hingga hari kiamat, di samping berbagai pelajaran agama, hukum-hukum dan etika yang harus diketahui oleh semuanya.[2]

Imam al-Qurthubi menambahkan, Imam Malik berkata, “Siapa saja yang menghujat Abu Bakar, ia layak mendapatkan hukuman. Siapa yang menghujat Umar, layak mendapat hukuman. Siapa saja yang menghujat Aisyah, maka ia dibunuh. Sebab Allah SWT berfirman, “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya. Jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. an-Nur: 17).

Ibnul-Arabi menambahkan juga, para pengikut Madzhab Syafii mengatakan, “Siapa yang menghujat Aisyah, maka ia mendapatkan hukuman sebagaimana terhadap orang-orang beriman lainnya, dan bukan berarti “…jika kamu orang-orang yang beriman” tentang Aisyah karena perbuatan tersebut kufur. Namun, seperti yang disabdakan Nabi saw,  “Tidaklah seorang beriman ketika ia tidak menjamin keselamatan tetangganya dari keburukannya.”[3]

Terkait peristiwa ini, Allah menurunkan firmannya dalam surah an-Nuur ayat 11 sampai dengan 21.
Sebulan kemudian keraguan dan keguncangan itu hilang dari Madinah. Kedok kaum munafik pun tersingkap. Menurut Ibnu Ishaq, setelah peristiwa itu, apabila melakukan tindakan-tindakan baru, ia (Abdullah bin Ubay, gembong munafik) dicela oleh kaumnya sendiri.[4]

Selain hampir menyebabkan perang antar saudara, peristiwa ini telah membuat Shafwan bin
Muaththal dan Hassan bin Tsabit terlibat perkelahian. Ibnu Ishaq menuturkan, begitu mendengar kabar tersebut, Shafwan mendatangi Hasan bin Tsabit dengan membawa pedang. Shafwan menghadang Hasan lalu memukulnya.

Ketika melihat hal itu, Tsabit bin Qais bin Syammas meloncat ke arah Shafwan. Ia segera mengikat kedua tangannya ke leher dan membawanya ke Bani Harits bin Khazraj. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Abdullah bin Rawahah. Abdullah heran melihat kondisi mereka. Lalu, kasus tersebut dibawa ke Rasulullah saw.

Beliau segera memanggil Hasan bin Tsabit dan menasihatinya. Sebagai ganti rugi atas pemukulan Shafwan, Nabi saw memberi Tsabit sebuah istana Biyaraha yang semula milik Thalhah bin Sahl yang telah diberikan kepada Rasulullah saw. Selain itu, Nabi saw juga memberikan seorang budaknya Sirrin hadiah dari raja Mesir kepada Hasan yang kemudian melahirkan anak bernama Abdurahman bin Hassan.

Belakangan, menurut Aisyah, orang-orang pun bertanya tentang Shafwan. Didapati ternyata dia seorang yang impoten dan tidak bisa menggauli wanita. Tak lama setelah itu, Shafwan gugur sebagai syahid.[5]

Sebuah riwayat dari jalur Urwah bin Zubair disebutkan, Aisyah mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya laki-laki yang di-issu-kan itu berkata, ‘Maha Suci Allah, demi Dzat diriku ada pada-Nya, saya tidak pernah memasuki bilik wanita sama sekali.” Setelah itu ia gugur di medan jihad di jalan Allah.[6]

Jadi, dilihat dari berbagai penjelasan, berita buruk tentang Aisyah ini terbantahkan. Ia hanyalah peristiwa yang menjadi makanan empuk orang-orang munafik untuk memecah belah umat Islam saat itu.[7]

Orang Munafik Tak Bekerja Sendiri
Ketika fitnah Haditsul Ifki merebak, yang langsung terlintas dalam bayangan kita adanya berita itu akibat ulah orang-orang munafik. Merekalah yang merancang semua itu. Namun, al-Qur’an menjelaskan bukti bahwa yang membuat gosip itu justru sekelompok ‘oknum’ kaum Mukmimin. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari goongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan ia adalah baik bagi kalian…”(QS an-Nur (24) : 11).

Secara berturut-turut ayat al-Qur’an mendebat kaum Mukminin yang terlibat pada peristiwa tersebut. “Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata,” (QS an-Nur (24) : 12 )

Sementara itu peran yang dimainkan orang-orang munafik adalah meniup-niupkan berita ini dan menyebarkannya. Aisyah mengisyaratkan bahwa yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa ini adalah Abdullah bin Ubay, sebagaimana yang dikatakannya, “Bagian terbesar pada peristiwa itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul yang memberitakan kepada beberapa orang Khazraj tentang apa yang dikatakan Misthah dan ia menjaminnya.”

Aisyah menceritakan tersebarnya berita itu, “….ketika mereka telah tenang orang itu muncul dan menuntun kendaraanku, lalu orang-orang penyebar gosip itu mengatakan apa yang mereka katakan dan rombongan menjadi gempar. Demi Allah, aku tidak tahu-menahu sedikit pun soal itu….”
Orang-orang munafik tidak akan berani menyebarkan berita itu serta mengguncingkannya setelah kebusukan mereka terbongkar habis melalui Ibnu Ubay. Tersebarnya berita  itu dan tergoncangnya barisan Islam membuat peluang mereka sangat terbuka lebar untuk terlibat dan untuk menyalakan api dan balik tabit. Barangkali  Abdullah bin Ubay sendiri yang tampak dalam nash ini sebagai orang yang mengambil bagian terbesar.

Di kalangan barisan Islam, terdapat tiga orang yang berperan dalam peristiwa ini. Yakni,  Hassan bin Tsabit, penyair Rasulullah saw, orang yang Rasulullah saw pernah bersabda kepadanya, “Seranglah dan Ruhul Qudus bersamamu!”. Lalu, Misthah bin Utsatsah, salah seorang Muhajirin dan termasuk veteran Perang Badar, dan anak bibi Aisyah yang tinggal di rumah Abu Bakar. Kemudian, Hamnah binti Jahsy, anak bibi Rasulullah saw dan istri seorang syahid dalam Islam Mush’ab bin Umair.
Jadi, fenomena orang-orang munafik sebagai suatu kelompok muncul pertama kali menjelang Perang Uhud dan mencapai puncak dan bahayanya bagi barisan Islam pada Perang Uhud itu sendiri.

Selanjutnya satu demi satu habis hanya tinggal beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.
Barisan Islam menjadi bersih dan murni, berkat tarbiyah Nabi saw, yang mendorong banyak di antara mereka masuk Islam dan bagus keislamannya. Fenomena ini muncul kembali pasca-Fathu Makkah saat Islam mulai menyabar ke seantero negeri Arab. Yang paling mencolok dalam fenomena tersebut adalah pada Perang Tabuk, dimana surah Bara’ah membongkar rencana dan strategi jahat mereka.
Munculnya kemunafikan pada Fathu Makkah ini disebabkan banyaknya orang masuk Islam secara terpaksa. Rasa takut membuat mereka menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafiran. Ini yang menjadi benih kemunafikan. Wallahu a’lam.


Hepi Andi Bastoni, MA
Dipublukasikan pertama oleh www.al-intima.com

Internasional

INSPIRASI

ARSIP BLOG

NASIONAL

 
© Copyright PKS CANDI 2013 | Update News Kota Sidoarjo | Published by M19 | PKS CANDI Mengabarkan dari Pinggiran Kota Udang .